-> -> bit.ly/andini-citras <- <-
*
Keunggulan Ebook ini:
- Halaman Asli, tersedia header dengan judul bab
- Baca dengan keras, Menjadi audio book dengan dibacakan mesin berbahasa Indonesia
- Teks Mengalir, menyesuaikan ukuran layar
- Ukuran font dan jarak antar baris kalimat bisa diperbesar atau perkecil sesuai selera
- Bisa ganti jenis font
- Warna kertas/background bisa diubah menjadi Putih, Krem, dan Hitam
----------
āMbak Ning tinggal sendirian di sini?!ā tanya Benny pada Aningsih. Mereka duduk di ruang tengah rumah Aningsih. Pada jam sepuluh pagi, Aningsih belum mandi. Tetapi di mata Benny, bahkan Aningsih tampak lebih cantik dan menawan.
āTidak! Bersama teman, Mbak Hilda! dan seorang pembantu!ā jawab Aningsih sambil meletakkan segelas kopi susu di hadapan Benny.
Benny memutar pandangannya ke sekeliling ruang tengah. Hmm, rapi. Pertanda rumah ini ditangani oleh orang-orang yang resik.
āMbak Ning kerja?!ā tanya Benny lagi.
āTidak! Aku cuma dagang permata. Yah, hasilnya lumayan juga,ā kata Aningsih sambil berdiri dari duduknya. āKau tunggu sebentar. Mbak mandi dulu. Kalau mau baca-baca majalah, tuh di bufet. Banyak!ā kemudian Aningsih masuk ke kamarnya, mengambil handuk. Kemudian keluar lagi dan melenggang ke kamar mandi. Mata Benny tak lepas dari pinggul Aningsih yang bergoyang-goyang.
Aningsih melepaskan satu-satu yang melekat di tubuhnya. Hmm, air terasa sejuk ketika mengguyur tubuhnya yang mulus. Lalu tangannya yang lentik mulai menyabuni. Mulai dari leher, turun ke bahu, turun lagi ke sepasang perbukitan indah di dadanya. Seluruh apa yang ada pada dirinya, merupakan panorama sangat indah yang akan mendatangkan kesan mendalam bagi yang memandangnya. Sambil menyabuni itu, Aningsih berpikir: āBenny benar-benar datang!ā Aningsih benar-benar tidak menduga, bahwa Benny akan menepati janji. Pemuda itu sangat menarik. Tubuhnya tegap dan atletis. Tubuh yang dirindukan oleh perempuan.
āBennnn !!!ā Benny yang sedang duduk membaca majalah di ruangan tengah, mendengar suara Aningsih yang memanggilnya mesra.
Benny menutupkan majalah dan buru-buru ke kamar mandi. Pintu kamar mandi setengah terbuka. Aningsih berdiri dengan handuk sebatas dadanya! Benny terkesiap. Hmm, dengan handuk itu, tubuh Aningsih tercetak indah. Terutama kulit bahu dan pahanya yang sangat mulus. Kencang dan sekal. Membuat mata Benny tidak berkedip.
Aningsih tersenyum sambil menjentik pipi Benny. āMengapa kau pandangi aku seperti itu, sih?! Apa ada yang aneh pada diriku?!ā...
Contents
Awal Pertemuan dengan Ningsihā1
Di Rumah Mbak Ningā25
Rintihan Mbak Ningā39
Masukkan Semua, Ben!ā71
Tante Dewiā85
Tante Dewi & Mbak Miaā103