Sejak kecil, perjalanan nasib Parulian sungguh luar biasa konsisten. Konsisten kacaunya. Mulai dari menjadi saksi piring terbang saat orang tuanya bercerai, menjadi samsak gratisan teman sekolah, hingga yang paling ajaib, cinta pertamanya kandas murni karena alasan protokol kesehatan. Saat masuk ke dunia kerja pun, dia harus berhadapan dengan bos ajaib yang mengira gardu listrik tersambar petir adalah murni kesalahan kuli koding.
Iter Malum diambil dari bahasa Latin yang artinya Perjalanan yang Buruk. Tolong dicatat baik baik, buku ini sama sekali bukan buku motivasi yang akan membuatmu tiba tiba punya cita cita setinggi langit atau mendadak jago berbisnis. Jangan berharap ada pencerahan batin setelah membacanya.
Buku ini murni sebuah catatan harian yang jujur, santai, dan absurd tentang bagaimana kita menertawakan kesialan kita sendiri. Ditemani sosok Lukman, sahabat dengan nasib yang kelewat mujur dan wangi, Parulian membuktikan bahwa seburuk apa pun jalan berlubang di hidup kita, semua itu masih sangat layak untuk ditertawakan bersama sama.
Sangat cocok dibaca oleh kamu para budak korporat, kaum patah hati, atau siapa saja yang lelah dengan kerasnya ekspektasi dunia nyata.
Silakan beli, siapkan mental, tarik napas, dan pastikan kopi yang kamu minum untuk menemani membaca buku ini benar benar sudah dikasih gula.
Saya Muhamad Rizal Al Qozali.
Dalam kehidupan nyata, saya sama sekali bukan tipe pujangga melankolis yang suka merangkai majas di bawah pohon rindang saat senja. Habitat asli saya adalah di depan layar monitor. Saya adalah seorang pengembang web yang sehari hari lebih sering berdialog dengan bahasa pemrograman seperti PHP dan Laravel, serta berteman akrab dengan deretan perintah di sistem operasi Linux. Bagi saya, mencari sebuah titik koma yang hilang di dalam barisan kode jauh lebih menguras emosi daripada mencari pencerahan batin.
Saat ini, saya menetap di Jember, menjalani hari hari dengan santai dan apa adanya. Saat sedang tidak berurusan dengan kerumitan dunia koding, saya lebih suka mengamati betapa absurdnya kelakuan orang orang di sekitar. Tulisan tulisan yang saya buat pun biasanya lahir dari keisengan belaka. Sebuah bukti nyata bahwa di sela sela kesibukan dan keruwetan logika komputer, seorang pekerja teknis juga butuh ruang untuk menertawakan kehidupan.
Jika kebetulan berpapasan dengan saya di jalan raya, tidak perlu repot repot membawa buket bunga untuk menyapa. Cukup bawakan segelas kopi yang gulanya pas, karena menurut saya, rutinitas kehidupan orang dewasa itu terkadang sudah cukup pahit.