Kini, di ujung Perang Baratayuda, Prabu Salya dipaksa memimpin pasukan Kurawa sebagai panglima tertinggi, padahal dua keponakannya, Nakula dan Sadewa, berdiri di barisan Pandawa yang harus dihadapinya. Dalam novel ini, kesetiaan dan ikatan darah saling berbenturan hingga ajian Candabirawa bangkit kembali, melahirkan makhluk buas yang terus menggandakan diri dan nyaris meluluhlantakkan medan laga. Hanya ajian Kalimasada Yudhistira yang mampu menghentikannya, sebelum anak panah menembus jantung sang panglima, dan istrinya—Pujawati—memilih menyusul mengakhiri hidupnya dengan keris Luksanga milik suaminya.