Irma mengira rumahnya adalah tempat berlindung paling aman, sampai Fuad—pria yang menikahi ibunya—hadir membawa mimpi buruk berwujud pesona malaikat. Di bawah atap yang sama, Fuad menelanjangi segala rahasia dan trauma Irma, mengurungnya dalam manipulasi psikologis yang menyiksa. Setiap sentuhan paksa dan bisikan keji adalah belenggu yang membuat Irma terpaksa menari sebagai boneka tak berdaya, rela mengorbankan kewarasannya demi melindungi kebahagiaan semu sang ibu.
Namun, ketika rasa sakit dan benci pada diri sendiri telah mencapai dasar jurang, keputusasaan itu bermutasi menjadi senjata yang mematikan. Irma menolak untuk terus menjadi korban. Dengan keberanian yang lahir dari kehancuran, ia merajut sebuah skandal ayah tiri yang erotis dan mematikan, menjebak sang predator ke dalam permainannya sendiri. Kendali kini berpindah; desahan pasrah yang memabukkan hanyalah ilusi manis untuk meruntuhkan arogansi sang tiran.
Mengapa Anda akan terpikat dengan buku ini:
• Tensi Psikologis yang Mencekam: Menyelami dinamika dark romance dan manipulasi pikiran yang akan membuat Anda menahan napas di setiap halamannya.
• Transformasi Karakter yang Memukau: Saksikan evolusi emosional seorang gadis yang hancur menjadi sutradara atas pembalasan dendamnya sendiri.
• Romansa Gelap dan Erotisme Puitis: Ditulis dengan narasi sensual, evokatif, dan mendalam yang mengeksplorasi batas tipis antara gairah, kekuasaan, dan keadilan.
• Plot Twist yang Memuaskan: Sebuah permainan kucing dan tikus yang brilian, di mana sang mangsa berbalik menjadi pemburu tanpa belas kasihan.
Jangan lewatkan kisah pembalasan dendam sempurna yang akan mengaduk-aduk emosi Anda hingga lembar terakhir. Baca sampel gratisnya sekarang, dan saksikan bagaimana sebuah batas terlarang dilanggar demi merebut kembali sebuah kebebasan!
***
Malam itu, di antara desahan yang tertahan dan tawa kecil yang canggung, kami meruntuhkan batas terakhir di antara kami, mengubah persahabatan menjadi sesuatu yang baru, sesuatu yang liar, dan sesuatu yang tidak akan pernah bisa kami lupakan. (Bab 1, Batas yang Kabur)
Senyumnya tidak pernah sampai ke matanya. Di sana, di kedalaman pupilnya yang gelap, ada sesuatu yang dingin, sesuatu yang mengamatiku bukan sebagai seorang anak, tapi sebagai... sesuatu yang lain. (Bab 2, Ayah Baru di Rumah Ibu)
Ia adalah seorang pemburu yang sabar, dan rumah ini adalah hutan barunya. Di dalamnya, ada seekor mangsa muda yang naif, yang tidak menyadari bahwa serigala telah diundang masuk untuk tidur di ranjang yang sama. (Bab 3, Topeng Sang Malaikat)
“Dengar, kalau kamu berani buka mulut, aku akan bilang ke Ibumu kalau anak gadis kesayangannya itu ternyata murahan yang sudah sering tidur dengan laki-laki.” (Bab 4, Rahasia yang Terenggut)
Rumah ini bukan lagi tempat perlindunganku. Setiap sudutnya menyimpan gema dari peristiwa itu, setiap bayangan seolah membentuk sosoknya. (Bab 5, Jeritan dalam Diam)
“Lebih enak sama Ayah atau sama dia?” bisiknya sambil terus menghujamku. Ia memaksaku menceritakan detail hubunganku dengan Dani, mengubah kenangan indah itu menjadi sesuatu yang kotor dan menjijikkan. (Bab 6, Di Bawah Bayang-Bayang Aib)
Ia adalah seorang dalang. Maya dan Irma adalah bonekanya. Maya, boneka naif yang menari dalam kebahagiaan palsu. Dan Irma, boneka tragis yang talinya terhubung langsung ke aibnya sendiri, menari mengikuti setiap sentakan jari Fuad. (Bab 7, Belenggu Aib dan Dusta)
Jiwaku menjerit. Pikiranku memberontak. Tapi tubuhku... tubuhku yang sialan ini berkhianat. (Bab 8, Pengkhianatan Tubuhku)
Malam ini, Irma sang korban telah mati. Dan dari abunya, sesuatu yang baru telah lahir. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya. (Bab 9, Benci yang Menjadi Kuasa)
Ia tidak sadar, bahwa di ranjang itu, di tengah kegelapan, sang boneka juga sedang tersenyum. Sebuah senyuman dingin dan tanpa emosi. Karena malam ini, sang boneka telah memulai tariannya sendiri. (Bab 10, Boneka yang Mulai Menari)
“Malam ini... aku yang pimpin permainan, boleh?” bisikku, mencoba membuat suaraku terdengar serak dan penuh gairah. (Bab 11, Aku yang Memegang Kendali)
“IYA! AKU MEMPERKOSAMU! AKU MEMPERKOSAMU, IRMA! PUAS KAU, JALANG?!” Pengakuan itu menggema di ruangan. Sempurna. (Bab 12, Pengakuan Sang Iblis)
“Maafkan Ibu, Nak,” isaknya di bahuku. “Maafkan Ibu... Ibu buta... Ibu egois... Ya Tuhan, maafkan Ibu...” (Bab 13, Runtuhnya Rumah Kaca Ibu)
Tangan kami bekerja berdampingan, membersihkan masa lalu, menyiapkan lahan untuk sesuatu yang baru untuk tumbuh. (Bab 14, Fajar di Ujung Jalan)
“Seandainya tanpa ikatan cinta pun, kita akan tetap bisa seperti ini. Kalau aku butuh, aku akan bilang padamu. Dan kalau kamu butuh... kapan pun kamu mau, aku siap untukmu.” (Epilog, Atas Namaku Sendiri)
***