Jawabannya, buku ini berargumen, terletak pada kamus yang salah. Publik Indonesia telah lama dibentuk oleh satu template tentang seperti apa "agama" itu seharusnya: satu Tuhan personal, satu kitab suci tunggal, dan satu sistem iman yang tegas. Ketika Dharma—yang merupakan jalur latihan, transmisi, dan pembentukan batin—dibaca dengan kacamata itu, yang muncul bukanlah pemahaman, melainkan serangkaian salah paham yang diwariskan turun-temurun. Melalui pelacakan etimologis yang kaya (dari āgama hingga avatāra), pembongkaran simbol-simbol yang tercemar (Swastika), serta analisis praktik tubuh dari Praṇāma hingga Dhyāna, buku ini membersihkan kabut semantik yang selama ini mengaburkan wajah asli Dharma.
Namun Buddhist KTP bukan sekadar buku tentang Buddhisme. Ia adalah potret psikologi sosial tentang bagaimana sebuah minoritas bertahan hidup. Bab-bab seperti Tridharma dan Viparyaya mengungkap ironi yang menyakitkan: tradisi leluhur yang dulu dibuang karena dianggap kuno atau "tidak modern," kini dipungut kembali setelah dikemas ulang oleh Barat sebagai wellness, mindfulness, atau self-care. Di sinilah buku ini menemukan nadanya yang paling tajam—sebuah kritik terhadap amnesia kultural dan tekanan asimetris yang memaksa warga minoritas untuk terus-menerus menerjemahkan diri mereka sendiri demi secuil legitimasi.
Pada akhirnya, buku ini menawarkan lebih dari sekadar klarifikasi. Ia mengajak pembaca—baik Buddhis maupun non-Buddhis—untuk melatih Samasthiti: keseimbangan batin di tengah perbedaan. Dimulai dari bab pembuka Gapura dan ditutup dengan latihan welas asih Tonglen, perjalanan dalam manuskrip ini bergerak dari keresahan administratif menuju keluasan kosmis. Buku ini adalah bukti bahwa kejernihan tidak harus lahir dari kemenangan debat, melainkan dari keberanian untuk duduk diam, memperhatikan napas, dan membaca kembali kamus hidup kita dengan lebih jujur.
Penulis bertumbuh di luar lingkungan komunitas Buddhis, meskipun secara administratif tercatat sebagai penganut Buddha di KTP.
Ia dibesarkan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, di lingkungan yang komunitas Tionghoanya sangat sedikit dibandingkan wilayah seperti Jakarta Barat atau Jakarta Utara.
Ia menempuh pendidikan di institusi Katolik sejak tingkat dasar hingga universitas, lalu menjalani lebih dari dua puluh tahun kehidupan profesional di manajemen asuransi umum, sebagian besar dengan hampir tidak ada Buddhis di sekelilingnya.
Pengalaman panjang itu membentuk kepekaan penulis terhadap cara Dharma dibaca, disalahpahami, dan dinegosiasikan dalam lanskap sosial Indonesia.
Dalam perjalanan batin dan intelektualnya, penulis juga banyak dipengaruhi oleh cakrawala Sanātana Dharma melalui ajaran para guru seperti Guruji Anand Krishna dan Sadhguru Jaggi Vasudev. Dalam beberapa tahun terakhir, ia menekuni praktik Isha Yoga secara serius sebagai bagian dari disiplin batin dan penghayatan yang lebih mendalam.
Saat buku ini ditulis, ia sedang menyelesaikan disertasi psikologi sebagai bagian awal dari lintasan riset jangka panjang yang berporos pada tema toleransi, pluralitas, spiritualitas, identitas, dan kemungkinan hidup bersama yang lebih jernih.