Di tengah kobaran api kerusuhan 1998, Meiliana tahu, sekadar bertahan hidup tak cukup. Ia harus berani menuntut kebebasan di tengah dunia yang ingin membungkamnya. Baginya, semua itu bukan sekadar berita di koran, melainkan senja yang tidak pernah berakhir.
Sandyakala menyingkap luka yang diwariskan sejarah: sebuah perjuangan getir, penuh keberanian, dan tak pernah sederhana.