Jawabannya terdapat dalam empat dialog yang menghimpun hari-hari terakhir kehidupannya.
Hari-Hari Terakhir Socrates memuat empat dialog klasik—Euthyphro, Apologia, Crito, dan Phaedo—yang membentuk rangkaian peristiwa sejak menjelang persidangan Socrates hingga saat-saat terakhir sebelum ia meminum racun. Dibaca secara berurutan, keempat dialog ini menghadirkan bukan hanya kisah akhir hidup seorang filsuf, tetapi juga perjalanan intelektual yang memperlihatkan mengapa pemikirannya terus memengaruhi dunia selama lebih dari dua puluh empat abad.
Dalam Euthyphro, Socrates mempertanyakan hakikat kesalehan dan mengajak lawan bicaranya menguji kembali keyakinan-kepercayaan yang selama ini dianggap pasti. Dalam Apologia, ia membela kehidupannya sebagai seorang pencari kebenaran di hadapan pengadilan Athena. Dalam Crito, ia menolak melarikan diri dari penjara dan menjelaskan mengapa keadilan harus dijunjung bahkan ketika hukum terasa tidak adil. Sementara dalam Phaedo, ia mendiskusikan jiwa, kematian, dan makna kehidupan pada jam-jam terakhir sebelum menjalani hukuman mati.
Melalui dialog-dialog inilah pembaca dapat menyaksikan secara langsung cara Socrates berpikir: mengajukan pertanyaan, menguji definisi, membongkar asumsi, dan menuntun lawan bicaranya menuju pemahaman yang lebih jernih. Pendekatan yang kemudian dikenal sebagai Metode Socrates ini masih menjadi salah satu dasar berpikir kritis dalam filsafat, pendidikan, hukum, dan berbagai bidang lainnya.
Edisi ini dilengkapi dengan pengantar yang membantu pembaca memahami konteks sejarah, urutan kronologis keempat dialog, serta alasan mengapa karya-karya ini menjadi pintu masuk terbaik untuk mengenal Socrates dan warisan pemikirannya.
Baik Anda baru pertama kali membaca filsafat maupun ingin kembali kepada teks-teks klasik, Hari-Hari Terakhir Socrates menawarkan pengalaman membaca yang bukan sekadar mengenalkan seorang filsuf, tetapi juga mengajak Anda merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang tetap hidup hingga hari ini: Apa itu kebenaran? Apa itu keadilan? Bagaimana seharusnya manusia hidup? Dan bagaimana seharusnya manusia menghadapi kematian?
Plato (sekitar 427–347 SM) adalah filsuf Yunani kuno, murid Socrates, dan guru Aristoteles. Ia merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah filsafat Barat. Setelah kematian Socrates, Plato mengabadikan pemikiran dan metode gurunya melalui serangkaian dialog filosofis yang hingga kini terus dipelajari di seluruh dunia.
Sekitar tahun 387 SM, Plato mendirikan Akademia di Athena, lembaga pendidikan yang sering dianggap sebagai universitas pertama dalam tradisi Barat. Di sanalah ia mengajar dan menulis karya-karya yang membahas etika, politik, pengetahuan, keadilan, jiwa, dan hakikat realitas.
Dialog-dialog seperti Euthyphro, Apologia, C