Buku ini dibuka dengan gagasan utama bahwa manusia modern sebenarnya tidak sedang benar-benar hidup secara sadar, melainkan sedang diproses oleh berbagai kekuatan tak terlihat: algoritma, industri, tren, propaganda halus, serta kebutuhan akan validasi sosial.
Pada bagian awal, buku ini membedah absurditas pembagian generasi seperti Gen Z, Milenial, dan seterusnya. Pengelompokan tersebut dipertanyakan bukan sebagai identitas manusia yang sejati, melainkan sebagai alat segmentasi pasar dan perilaku konsumsi.
Dari sana, muncul konsep utama buku ini: Generasi Cookies. Sebuah generasi yang hidup di bawah pengawasan data, dibentuk oleh algoritma, dikondisikan oleh sistem digital, dan perlahan kehilangan kemampuan untuk berpikir mandiri. Mereka merasa bebas, padahal emosi, selera, kemarahan, bahkan impian mereka telah diarahkan sebelumnya.
Buku ini juga mengulas berbagai ilusi modern yang dijual setiap hari: budaya sukses instan, kemewahan palsu, motivasi kosong, pencitraan digital, budaya kerja berlebihan, hingga obsesi terhadap pengakuan sosial. Semua itu membentuk masyarakat yang sibuk terlihat hidup, tetapi perlahan kehilangan makna hidup itu sendiri.
Di bagian berikutnya, pembaca diajak memahami bagaimana media sosial bekerja sebagai mesin emosi dan ekonomi perhatian. Perasaan manusia dijadikan bahan bakar, sementara perhatian mereka diperjualbelikan sebagai komoditas. Dalam sistem ini, manusia bukan lagi pengguna, melainkan produk.
Buku ini kemudian membahas bagaimana industri modern memanfaatkan rasa takut, rasa kurang, dan kebutuhan identitas untuk mendorong konsumsi tanpa akhir. Dari fast fashion hingga budaya langganan digital, manusia diarahkan untuk terus membeli demi merasa relevan.
Namun buku ini tidak berhenti pada kritik. Pada bagian akhir, Generasi Cookies menawarkan jalan keluar: membangun kesadaran, melatih keheningan, memperlambat hidup, membangun karakter, memperkuat disiplin, dan mengembangkan kemampuan berpikir mandiri sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang terus mengunyah manusia menjadi massa yang seragam.
Pada akhirnya, buku ini mengajak pembaca merenungkan satu pertanyaan mendasar:
Di tengah dunia yang terus membentuk kita, apakah kita masih memiliki keberanian untuk menjadi manusia yang utuh?
Sigit Pramadi, MBA., CRISC, BCCE.
Selama bertahun-tahun bekerja di berbagai industri: mulai dari teknologi, audit, manajemen risiko, penerbangan, hingga sistem informas. Sigit Pramadi melihat satu perubahan besar yang diam-diam sedang terjadi pada manusia modern: manusia tidak lagi hanya hidup di dalam sistem, tetapi perlahan dibentuk oleh sistem itu sendiri.
Awalnya perubahan itu terlihat kecil.
Cara orang bekerja berubah. Cara orang berkomunikasi berubah. Cara orang mencari pengakuan berubah. Bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri pun mulai berubah.
Namun semakin lama ia mengamati, semakin terlihat bahwa dunia modern tidak hanya membangun teknologi, pasar, dan jaringan digital. Dunia modern juga sedang membangun manusia yang mudah dipetakan, mudah dipengaruhi, mudah diarahkan, dan tanpa sadar semakin kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri.
Pengalaman panjangnya di bidang tata kelola, risiko, teknologi, dan perilaku sistem memberinya sudut pandang unik dalam melihat masyarakat modern. Ia terbiasa membaca pola: bagaimana data dikumpulkan, bagaimana perilaku diprediksi, bagaimana keputusan dipengaruhi, dan bagaimana sebuah sistem dapat membentuk manusia tanpa perlu terlihat memaksa.
Dari pengamatan itulah lahir gagasan tentang Generasi Cookies, sebuah metafora tentang manusia modern yang hidup di tengah mesin algoritma, budaya validasi, ekonomi perhatian, dan industri yang terus mengunyah kesadaran manusia sedikit demi sedikit.
Bagi Sigit Pramadi, masalah terbesar zaman modern bukan sekadar teknologi, media sosial, atau budaya konsumsi.
Masalah terbesarnya adalah ketika manusia mulai kehilangan jarak untuk mempertanyakan hidup yang sedang mereka jalani.
Latar belakang akademiknya di bidang teknologi dan bisnis. S1 Manajemen Informatika di STMIK Budi Luhur serta MBA dari University of Strathclyde, Glasgow, membentuk pendekatan berpikirnya yang sistematis dan reflektif. Sertifikasi internasional seperti CRISC (ISACA), BCCE (BCM Institute), ITLF (EXIN), serta berbagai sertifikasi teknis dari CISCO, IBM, dan ORACLE memperkuat pemahamannya terhadap cara kerja sistem modern, risiko perilaku, dan struktur yang membentuk dunia digital saat ini.
Namun tulisan-tulisannya tidak lahir dari dunia teknis semata.
Ia banyak menulis tentang manusia: tentang ilusi modern, tentang kebisingan digital, tentang identitas yang dibangun oleh validasi, tentang masyarakat yang semakin sibuk terlihat hidup tetapi semakin sulit merasa hidup.
Tema-tema yang ia angkat sering berada di persimpangan antara motivasi, kritik sosial, refleksi filosofis, psikologi modern, dan kesadaran hidup. Gaya penulisannya dikenal tajam, kontemplatif, gelap, tetapi tetap membumi, mengajak pembaca bukan sekadar memahami dunia, melainkan mempertanyakan kembali posisi dirinya di dalam dunia tersebut.
Dalam Generasi Cookies: Manusia yang Dikunyah Sistem, ia membedah fenomena yang menurutnya menjadi salah satu krisis terbesar abad modern: manusia yang merasa paling bebas, padahal hidupnya perlahan diproses oleh algoritma, tren, industri, dan sistem yang bekerja jauh lebih halus daripada paksaan.
Ia tidak menulis untuk memberi jawaban instan.
Ia menulis untuk membangunkan pertanyaan yang terlalu lama tertidur.
Karena menurutnya, salah satu tanda manusia masih benar-benar hidup adalah ketika ia masih mampu berhenti, berpikir, dan bertanya:
“Apakah hidup ini benar-benar milikku?”
Kontak & Referensi
Email: info@fpa-id.com
Website: www.fpa-id.com