Mita selalu tahu posisinya: berdiri di balik layar, memegang papan klip, dan memastikan setiap fantasi sang sutradara tiran, Hendra, terwujud sempurna. Namun, melihat para dewi layar perak mendesah dan berkuasa di bawah panasnya lampu sorot memicu sebuah obsesi yang mulai membakar kewarasannya. Ia tidak lagi sekadar ingin mengatur adegan dari kejauhan; ia ingin menjadi pusat gairah itu sendiri. Ketika sebuah insiden syuting yang kacau memaksanya melangkah ke depan lensa, Mita menyadari bahwa harga sebuah ketenaran menuntutnya untuk menyerahkan tubuh, ambisi, dan otoritasnya pada pria yang selama ini menguasai fantasi terliarnya.
Dinamika kekuasaan bergeser dengan cepat, kotor, sekaligus memabukkan. Hendra bukan lagi sekadar atasan dominan yang menuntut kesempurnaan teknis, melainkan seorang predator yang siap melahap bakat mentah dan sensualitas Mita di atas meja kerjanya. Dalam pusaran novel romansa dewasa yang puitis dan evokatif ini, batas antara profesionalisme dan gairah melebur menjadi satu. Setiap sentuhan adalah negosiasi rahasia, dan setiap desahan adalah kontrak tak tertulis yang menyeret mereka ke dalam skandal industri film yang paling berbahaya.
Mengapa Anda akan terpikat dengan buku ini:
• Dinamika Kekuasaan yang Menggoda: Menghadirkan trope workplace romance yang intens antara bos dominan yang dingin dan bawahan ambisius yang siap membalikkan keadaan.
• Tensi Sensual Maksimal: Ditulis dengan narasi evokatif yang menyelami batas tipis antara kepatuhan profesional dan gairah yang tak terkendali.
• Rahasia di Balik Layar: Menguak intrik, manipulasi, dan harga mahal dari sebuah ketenaran di dunia hiburan yang penuh tipu daya.
• Evolusi Karakter yang Memukau: Saksikan transformasi berani seorang wanita biasa menjadi primadona yang berkuasa penuh atas tubuh dan permainannya sendiri.
Jangan biarkan rasa penasaran Anda hanya sebatas mengintip dari balik layar. Baca sampel gratisnya sekarang, dan biarkan diri Anda hanyut dalam skenario gairah yang tak akan pernah bisa Anda lepaskan!
***
“Di balik profesionalismeku yang kaku, ada rasa penasaran yang liar. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi mereka. Bukan hanya akting, tapi merasakan kebebasan untuk menjadi sensual, menjadi pusat gairah, menjadi objek hasrat sekaligus pengendali utama dari hasrat itu sendiri.” (Bab 1, Mimpi di Balik Papan Klip)
“Setiap tegukan kopi yang kuseduh untuknya terasa seperti persembahan kecil untuk dewa pemarah yang memegang nasibku di tangannya.” (Bab 2, Aroma Kopi dan Tuntutan Gila)
“Ia menatapku bukan seperti seorang kolega, melainkan seperti seorang pemburu yang menemukan mangsa menarik di luar musim berburu.” (Bab 3, Ular di Bawah Lampu Sorot)
“Ia butuh api, dan di seluruh studio ini, hanya ada satu orang yang cukup gila untuk menyalakannya. Astrada kecilnya yang selama ini hanya berdiri patuh di pojok ruangan.” (Bab 4, Mesin yang Mogok)
“Ini bukan lagi sekadar perintah. Ini adalah panggung audisiku. Dan aku tidak akan mengecewakan penonton utamaku.” (Bab 5, Audisi yang Tak Terduga)
“Rasanya seperti dua kutub magnet yang akhirnya menyerah pada daya tarik tak terelakkan, menciptakan ledakan energi di titik pertemuan mereka.” (Bab 6, Hadiah dari Sang Bintang)
“Kepercayaan diri adalah afrodisiak paling ampuh, dan saat ini, aku merasa seperti dewi yang mabuk oleh kekuatannya sendiri.” (Bab 7, Bintang Pengganti Telah Lahir)
“Gadis ini bukan sekadar material mentah. Dia adalah tambang emas yang tersembunyi di balik seragam astrada yang membosankan. Dan aku, adalah satu-satunya orang yang memegang peta dan sekopnya.” (Bab 8, Aksi yang Memukau)
“Permainan ini baru saja dimulai, dan aku harus memainkannya dengan benar.” (Bab 9, Evaluasi di Bawah Lampu Redup)
“Ini bukan seks yang romantis. Ini adalah pertarungan. Sebuah perebutan kekuasaan yang erotis. Ia menghunjamku dengan kekuatan yang brutal... Tapi aku tidak hanya menerima. Aku melawan balik.” (Bab 10, Kontrak di Atas Meja Sutradara)
“Gadis yang menatapku balik bukanlah Mita si astrada yang penurut. Matanya memiliki kilatan yang berbeda—lebih tajam, lebih lapar, dan penuh dengan rahasia.” (Bab 11, Fajar Seorang Bintang Baru)
***