Alma menipiskan bibirnya tajam. Dia sama sekali tidak merasa kebingungan dengan perlakuan Arka padanya. Alma jelas tahu apa alasannya.
“Lepas,” ketus Alma. Tapi Arka dengan seluruh kemarahannya, justru semakin mencengkeram kuat. “aku bilang,” Alma menekan ucapannya. “lepas, Arka.”
Tubuh Arka gemetaran, cengkeramannya semakin kuat. Dia melihat kernyitan di dahi Alma yang semakin hebat, dan itu artinya, Alma sedang menahan sakit.
“Berengsek!” umpat Arka saat pada akhirnya, dia melepas cengkeraman itu dengan dorongan kasar. “Otak kamu di mana, huh?!” bentaknya. “Genta itu anak kecil, Alma! Anakku! Gimana bisa kamu memperlakukan dia sekasar itu?!”