Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidur sendirian. Kosong. Dan bebas. (Bab 2, Nama yang Salah di Ranjang yang Salah)
Perangkapku sudah terpasang. Dan si murid teladan itu berjalan lurus ke arahnya. (Bab 3, Cedera Sang Murid Teladan)
Dia meledak. Aku menelan semuanya. Menelan dosa pertamaku. Menelan masa depan muridku. Rasanya hangat, kental, dan luar biasa nikmat. (Bab 4, Sesuatu yang Keras di Balik Seragam)
Ratih melenguh, suaranya parau. “Terus, Dika... jilat memek Ibu... ah!” Dia bukan lagi Bu Ratih. Dia adalah wanita yang sedang dijilat olehnya. (Bab 5, Dosa Pertama di Apartemen Harian)
“Aku keluar di dalam, Bu!” teriaknya. Aku roboh di atasnya, merasakan kehangatan yang membanjiri rahimku. Cairan kental milik muridku. (Bab 6, Rahim Hangat Sang Guru)
Dia bukan lagi murid teladan. Dia adalah pria yang baru saja meniduri gurunya. Dan anehnya, dia menginginkannya lagi. (Bab 7, Batang yang Tak Bisa Tumbang)
Aku sakau. Aku rindu kontol Andika. Vaginaku gatal setiap melihatnya di kelas. (Bab 8, Guru dan Murid (Selama Seminggu))
Aku belum pernah disentuh di sana. Rasa malu dan nikmat yang luar biasa meledak bersamaan. Aku orgasme hanya karena jilatan lidah muridku di lubang pantatku. (Bab 9, Panas di Kamar Mandi)
“Keluarkan di dalam, Dika,” bisikku, nadaku adalah perintah. “Penuhi rahimku sekarang juga.” (Bab 10, Balas Dendam yang Manis)
Aku tidak bergerak. Aku membiarkan spermanya menutupi wajahku seperti topeng. Rasanya hangat. Baunya khas. Bau Andika. (Bab 11, Janji di Penghujung Seragam)
“Di seberang jalan itu ada hotel transit, kan?” tanyaku, suaraku datar, tapi aku tahu mataku pasti sudah berkilat liar. (Bab 12, Kopi, Jakarta, dan Kenangan Manis)
Ratih adalah guru yang sempurna di siang hari. Seorang pendidik berdedikasi di sebuah SMA elit Jakarta. Namun, di balik tatapan profesional dan blus resminya, sebuah hasrat kelam bersemayam. Vaginanya berdenyut lapar untuk satu orang yang seharusnya tidak pernah ia inginkan.