Nyebelin. Dominan. Suka ngatur. Tapi tetap bikin jantungku kerja lembur.
Sekarang?
Sekarang aku sadar setelah menjadi pacarnya, Kaleed bukan sekadar posesif, tapi dia cowok teritorial.
Cara dia menggenggam tanganku barusan bukan cuma buat ngangetin. Cara dia nyampirin jaketnya ke badanku bukan cuma perhatian biasa. Itu kayak... tanda. Tanda tak kasat mata kalau aku ini berada di wilayahnya—miliknya.
Dan anehnya, aku menjadi terbiasa seperti itu.
Aku terbiasa tiap dia berdiri sedikit lebih dekat kalau ada cowok lain di sekitarku. Terbiasa tiap dia melirik tajam orang yang terlalu lama memandangku.
Terbiasa tiap dia bilang, "Kabari aku," dengan nada yang bukan permintaan—tapi aturan halus.
Harusnya aku protes. Harusnya aku ngerasa dikekang.
Tapi setiap kali dia menarikku ke sisinya, setiap kali dia bilang "kamu itu milikku," ada bagian dalam diriku yang... luluh.
Berbahaya banget, kan?
.
.
.
"Sayang."
"Hm." Aku membuka mata setengah karena rasa kantuk lebih mendominasi.
"Kamu mau gak tunangan sama aku?"
Detik itu juga dunia seperti berhenti.
Suara mesin pesawat masih berdengung samar. Lampu kabin sudah redup. Lia tampak pulas dengan penutup mata panda-nya. Meta dan Reyhan terlihat masih bisik-bisik manja.
Tapi di antara semua itu, cuma ada aku dan kalimat Kaleed.
"Kamu... apa?" tanyaku. Pertanyaan mendadak itu sukses membuatku melongo. Entah kemana perginya rasa kantuk yang tak tertahankan tadi—hilang sepenuhnya.
"Aku nanya serius." Kaleed gak bercanda. Gak ada senyum miring. Rahangnya kaku, matanya lurus menatapku.
"Kita masih kuliah lho Kal," bisikku.
"Aku tau. Terus kenapa?" Kaleed bertanya balik.
"Ini tiba-tiba banget."
"Enggak Bil." Jawabannya tegas, "aku udah mikirin ini lama." Tangannya yang mengurung tanganku justru makin erat. Jarinya mengunci jemariku, seolah takut aku melepaskannya.
"Kaleed."
"Aku gak suka," lanjutnya pelan.
"Gak suka gimana?"
"Cara orang-orang liat kamu."
Aku menelan ludah, "Kaleed, kamu tuh terlalu parno-an."
Kaleed menggelengkan kepalanya, "mungkin memang begitu, tapi jujur, aku gak suka kamu terlalu jauh dari jangkauan aku. Aku gak suka harus jelasin terus kalau kamu pacar aku."
"Aku kan emang pacar kamu. Lagian, kamu mau jelasin ke siapa? Gak masalah kok kalau orang salah paham sama status kita," ucapku mencoba membuat Kaleed mengerti.
"Bukan begitu." Kaleed menghela napas. Tatapannya tajam dan dalam, "pacar bisa putus Bil."
Kalimat itu bikin dadaku sesak.
"Tapi kalau tunangan beda," katanya lagi, kali ini ia mencium punggung tanganku. "Tunangan ada arah. Ada niat. Ada tujuan jelas di masa depan."
"Masa depan oleh takdir... atau masa depan yang kamu tentuin sendiri?" tanyaku lirih.
Senyum tipis muncul di bibirnya, "dua-duanya. Selagi bisa diusahakan, aku mau mencoba."
Harusnya aku takut. Harusnya aku lari dari kalimat itu. Tapi kenyataannya? Aku cuma bisa menatapnya, jantungku berdetak gak karuan, dan bertanya dalam hati—sejak kapan aku mulai nyaman dicintai se-intens ini?
"Kaleed..." suaraku melemah.
"Aku gak butuh jawaban sekarang," katanya, mengangkat tanganku dan mencium punggungnya pelan untuk kedua kalinya, "tapi mulai hari ini, aku mau serius."
"Lebih serius gimana lagi? Kamu sudah serius banget ini," ucapku.
"Selama ini aku pacar kamu." Kaleed mendekat sedikit. Nafasnya hangat di telingaku.
"Mulai sekarang, aku calon suami kamu."
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa ini bukan lagi tentang punya pacar posesif.
Ini tentang hidup dengan laki-laki yang sudah memutuskan masa depannya... dan memasukkan namaku di dalamnya.
Wattpad dan Karyakarsa: Sitinuratika07