Di dunia ajaib, Alice menemukan aula dengan pintu-pintu yang tak dapat dibuka, kunci emas, serta botol dan kue yang dapat mengubah ukuran tubuhnya. Ia terombang-ambing antara panik dan kagum, sambil berusaha mencapai taman indah yang tampak mustahil digapai. Semakin jauh ia melangkah, semakin aneh pula aturan yang berlaku.
Dalam perjalanan, Alice bertemu Ulat yang memberi nasihat dan Kucing Cheshire dengan senyum misterius. Ia juga terseret ke pesta teh yang kacau serta penuh teka-teki bersama Tukang Topi Nyentrik, Kelinci Aneh, dan Tikus Ngantuk, lalu ke permainan croquet sang Ratu yang memutarbalikkan logika. Di setiap kejadian, bahasa dan nalar dipelintir menjadi permainan kata yang lucu, tetapi menyimpan sindiran halus.
Ketika persidangan perihal pai kian tegang, Alice dipanggil sebagai saksi; ia dipaksa menimbang keberanian, akal sehat, dan keadilan di tengah ancaman “penggal kepalanya!”. Alice’s Adventures in Wonderland adalah karya klasik yang terus dicintai lintas usia dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 125 bahasa.