"Jangan bermimpi kamu bisa menyentuhku setelah ini!" cetusku begitu saja pada laki-laki berwajah tampan dengan hidung bangirnya itu.
"Tapi kan, aku sudah membayar 200juta pada temanmu itu, lagipula kamu sudah sah, jadi istriku." Laki-laki itu menatap tak percaya ke arahku.
"Tetap saja pernikahan ini adalah paksaan dibawah tuntutan dan ancaman."
"Baiklah, aku tak akan pernah memaksamu, tetapi kamu yang akan datang untuk aku sentuh," ucap Erlan dengan penuh rasa diri.
Ck! Tidak akan pernah sama sekali aku datang untuk memberikan diriku padanya walau ada hujan badai, angin ribut, halilintar.
Gerutuku penuh rasa percaya diri juga.
***
Satu hari sebelum pernikahan.
"Tapi aku bukan, Dewi," ucapku saat laki-laki itu mengatakan akan menikahiku sekarang juga.
"Aku tahu, justru karena kamu bukan Dewi maka aku akan menikah denganmu, Vina."