Dalam buku Manifesto Storytelling: Suara Manusia di Era AI, Yayan Sopyan mengajak Anda menyelami perbedaan ontologis antara "teks" yang diproduksi mesin dan "cerita" yang lahir dari rahim kesadaran manusia.
Mengapa Anda perlu membaca buku ini?
Memahami Jebakan "Mimicry": Bagaimana AI meniru emosi tanpa pernah merasakannya, dan mengapa "halusinasi" mesin berbahaya bagi kebenaran.
Melawan Logika Statistik: Belajar dari sejarah (seperti kasus perbudakan tahun 1860) bahwa keputusan manusia sering kali melawan data demi nilai moral—sesuatu yang mustahil dilakukan algoritma.
Menemukan Suara Asli: Panduan filosofis untuk memastikan tulisan Anda tetap memiliki "denyut jantung" dan niat yang otentik.
Buku ini bukan tutorial teknis prompt engineering. Ini adalah peta navigasi mental bagi penulis, jurnalis, pemimpin, dan siapa saja yang tidak ingin sekadar menjadi "kuli" bagi teknologi.
Kita tidak sedang bersaing dengan mesin. Kita sedang bertaruh untuk tetap menjadi manusia yang utuh. Karena sejauh ini, belum ada prompt yang bisa memerintahkan mesin untuk punya niat. Niat itu, sepenuhnya milik kita.
Yayan Sopyan adalah seorang penulis esai dan jurnalis yang mendirikan salah satu media online pelopor di Indonesia. Dengan latar belakang yang kuat dalam jurnalisme dan minat mendalam pada filsafat praktis, Yayan berfokus pada irisan antara kemanusiaan dan teknologi. Karya-karyanya sering mengeksplorasi bagaimana kita tetap menjaga kewarasan dan "kedaulatan nalar" di era digital yang serba cepat. Buku ini adalah refleksi terbarunya tentang masa depan kreativitas manusia.