Wulan, gadis sederhana dari keluarga biasa, tumbuh dengan luka mendalam sejak kecil kehilangan kedua orang tuanya, diusir oleh keluarga ibunya dari rumah nenek dan harus berjuang sendirian menempuh pendidikan. Meski hidupnya keras, Wulan tetap teguh, lembut, dan tak pernah berhenti menebar kebaikan, bahkan ketika dunia sering memperlakukannya dengan tidak adil.
Di masa kuliah, kehidupannya tak menjadi lebih mudah. Ia harus menempuh perjalanan jauh dengan sepeda setiap hari, sambil menahan pandangan sinis teman-temannya yang menilai dari penampilan dan harta. Namun di tengah kesendirian itu, ada sahabat-sahabat yang setia Sitan, Fia, dan Rere yang menjadi penguat di saat Wulan hampir menyerah.
Di balik senyumnya, Wulan menyimpan duka: rindu yang tak berujung kepada orang tuanya, tekanan hidup, dan rasa tidak berharga karena terus diremehkan. Namun dalam setiap kesedihan, ia belajar menemukan makna bahwa kasih seorang ibu tak pernah hilang, bahwa kehilangan bisa menjadi kekuatan, dan bahwa cinta sejati bukan tentang siapa yang datang kembali, tapi siapa yang tetap tinggal di hati dengan doa dan ketulusan.
Hai namaku Widiyani kalian bisa panggil Widia,aku sedang melanjutkan pendidikan ku di universitas Sindangkasih Majalengka. Hobiku membaca cerita, makan, dan jalan-jalan. Kalian juga bisa baca cerita yang aku tulis di blogger: https://widiyyani.blogspot.
Aku nggak akan sampai di titik ini jika tidak di dampingi guru-guru hebat seperti Bu Hj. Dede, Bapak Kiai K. Zaenal dan Ibu Eni, mereka guru hebatku. Tanpa dukungannya, mungkin kumpulan naskah ini tak akan kubuat jadi satu buku dan hanya jadi seperti tulisan di lembaran biasanya.