Setiap manusia menginginkan kehidupan yang baik. Kita bekerja untuk mendapatkan rezeki, belajar untuk memperoleh ilmu, membangun keluarga untuk mendapatkan kebahagiaan, dan berusaha mencapai berbagai impian yang kita miliki.
Namun, tidak semua yang kita inginkan dapat kita peroleh.
Ada saat ketika usaha telah dilakukan dengan sungguh-sungguh, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Ada doa yang telah lama dipanjatkan, tetapi jawaban yang ditunggu belum juga datang. Ada kehilangan yang tidak pernah kita rencanakan, kegagalan yang tidak pernah kita bayangkan, serta jalan hidup yang tiba-tiba berubah dari apa yang telah kita susun.
Pada saat-saat seperti itulah manusia sering bertanya:
"Mengapa ini terjadi kepadaku?"
"Mengapa doaku belum dikabulkan?"
"Mengapa orang lain mendapatkan apa yang mereka inginkan, sementara aku tidak?"
"Apakah Allah tidak mendengar doaku?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari perjalanan manusia. Kita memiliki keterbatasan dalam memahami kehidupan, sedangkan Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.
Di sinilah Kitab Al-Hikam memberikan banyak pelajaran yang sangat dalam.
Al-Hikam bukan sekadar kumpulan nasihat. Ia merupakan kumpulan hikmah yang mengajak manusia melihat kehidupan dari sudut pandang seorang hamba: bagaimana memandang Allah, bagaimana memandang diri sendiri, bagaimana menghadapi takdir, bagaimana menyikapi nikmat dan ujian, serta bagaimana membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain Allah.
Mengenal Kitab Al-Hikam
Al-Hikam al-'Atha'iyyah merupakan karya terkenal Syekh Ibnu 'Atha'illah as-Sakandari, seorang ulama dan tokoh tasawuf yang hidup pada sekitar abad ke-7 Hijriah.
Kitab ini berisi ungkapan-ungkapan hikmah yang singkat, tetapi memiliki makna yang sangat luas. Satu kalimat dapat menjadi bahan renungan yang panjang karena berbicara tentang persoalan mendasar dalam kehidupan manusia: keikhlasan, tawakal, doa, takdir, amal, nafsu, dunia, hati, dan hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.
Keistimewaan Al-Hikam terletak pada kemampuannya mengajak pembaca untuk tidak hanya melihat apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi juga melihat apa yang sedang terjadi di dalam hatinya.
Seseorang mungkin terlihat sedang beribadah, tetapi hatinya masih mengharapkan pujian manusia.
Seseorang mungkin memiliki banyak harta, tetapi hatinya terus-menerus diliputi ketakutan.
Seseorang mungkin mengalami kegagalan, tetapi justru kegagalan tersebut menjadi jalan yang membuatnya semakin dekat kepada Allah.
Karena itu, Al-Hikam mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan seorang manusia tidak selalu dapat dilihat dari apa yang tampak secara lahiriah.
Mengapa Al-Hikam Penting Dipelajari?
Kehidupan modern membuat manusia memiliki banyak kemudahan, tetapi sekaligus menghadirkan banyak kegelisahan.
Teknologi membuat komunikasi menjadi cepat, tetapi hati manusia belum tentu menjadi lebih dekat. Media sosial membuat seseorang dapat memperoleh perhatian dari banyak orang, tetapi perhatian tersebut belum tentu memberikan ketenangan. Kekayaan dapat bertambah, tetapi rasa cukup belum tentu hadir.
Manusia sering sibuk memperbaiki kehidupan di luar dirinya, tetapi lupa memperbaiki kehidupan di dalam hatinya.
Al-Hikam mengajak kita berhenti sejenak.
Berhenti mengejar sesuatu hanya karena takut tertinggal.
Berhenti membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.
Berhenti menganggap bahwa semua yang kita inginkan pasti baik bagi kita.
Dan yang paling penting, belajar kembali untuk menempatkan Allah sebagai tujuan utama kehidupan.
Antara Usaha dan Ketergantungan
Al-Hikam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan usaha.
Islam mengajarkan manusia untuk bekerja, berusaha, belajar, berdoa, dan mengambil sebab-sebab yang diperlukan dalam kehidupan.
Namun, ada perbedaan antara mengambil sebab dan menggantungkan hati kepada sebab.
Kita bekerja untuk mendapatkan rezeki, tetapi rezeki pada hakikatnya tetap berada dalam ketentuan Allah.
Kita berobat ketika sakit, tetapi kesembuhan tetap berada dalam kehendak Allah.
Kita belajar agar memperoleh ilmu dan keberhasilan, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam ketentuan Allah.
Dengan pemahaman seperti ini, manusia tetap berusaha secara maksimal tanpa menjadikan hasil sebagai satu-satunya sumber ketenangan.
Ia bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaannya.
Ia memiliki harta, tetapi tidak menjadikan harta sebagai Tuhan di dalam hatinya.
Ia memiliki cita-cita, tetapi tidak memaksa Allah untuk mewujudkan segala keinginannya.
Ketika Doa Belum Terwujud
Salah satu pelajaran penting yang dapat direnungkan dari Al-Hikam adalah tentang hubungan manusia dengan doa.
Sering kali kita mengira bahwa doa yang baik harus menghasilkan sesuatu sesuai dengan keinginan kita.
Padahal, seorang hamba tidak mengetahui seluruh akibat dari sesuatu yang ia minta.
Apa yang kita anggap baik belum tentu benar-benar baik bagi kehidupan kita.
Sebaliknya, sesuatu yang kita anggap buruk terkadang justru membawa kebaikan yang belum mampu kita lihat.
Karena itu, ketika doa belum terwujud sebagaimana yang kita harapkan, bukan berarti Allah tidak mendengar.
Bisa jadi kita sedang diajarkan untuk bersabar.
Bisa jadi kita sedang diarahkan kepada sesuatu yang lebih baik.
Bisa jadi kita sedang dijauhkan dari sesuatu yang sebenarnya akan membawa keburukan.
Atau bisa jadi Allah sedang mengubah hati kita terlebih dahulu sebelum memberikan apa yang kita minta.
Inilah salah satu keindahan hubungan seorang hamba dengan Allah: kita berdoa dengan penuh harapan, berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasil kepada-Nya.
Al-Hikam dan Penyucian Hati
Salah satu tema besar dalam Al-Hikam adalah tentang hati.
Hati manusia mudah berubah.
Hari ini kita merasa dekat dengan Allah, tetapi besok kita bisa lalai.
Hari ini kita merasa ikhlas, tetapi ketika mendapatkan pujian, kita mungkin mulai merasa bangga.
Hari ini kita merasa rendah hati, tetapi ketika memperoleh keberhasilan, kita bisa mulai menganggap diri lebih baik daripada orang lain.
Karena itu, perjalanan spiritual bukan hanya tentang memperbanyak aktivitas lahiriah, tetapi juga tentang membersihkan hati.
Menghilangkan kesombongan.
Mengurangi rasa iri.
Meninggalkan riya.
Mengendalikan hawa nafsu.
Mengurangi ketergantungan kepada manusia.
Dan belajar untuk semakin bergantung kepada Allah.
Membaca Al-Hikam dengan Hati
Buku ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan kajian dan syarah para ulama terhadap Kitab Al-Hikam.
Sebaliknya, buku ini disusun sebagai pengantar dan intisari, agar pembaca dapat mengenal tema-tema utama Al-Hikam dengan bahasa yang lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Setiap hikmah sebaiknya tidak hanya dibaca dengan pikiran, tetapi juga direnungkan dengan hati.
Jangan terburu-buru menyelesaikan banyak halaman.
Terkadang satu hikmah yang benar-benar direnungkan dapat memberikan perubahan lebih besar daripada puluhan halaman yang hanya dibaca sekilas.
Ketika membaca sebuah hikmah, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui kehidupan ini?
Kepada siapa sebenarnya hatiku bergantung?
Apakah amal yang kulakukan benar-benar karena Allah?
Apakah aku menerima ketentuan Allah dengan lapang?
Apa yang masih membuat hatiku jauh dari-Nya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi pintu menuju muhasabah.
Tujuan Buku Ini
Buku Intisari Kitab Al-Hikam disusun dengan satu harapan sederhana: membantu pembaca menemukan kembali ketenangan melalui pemahaman tentang kehambaan.
Bukan berarti setelah membaca buku ini semua masalah kehidupan akan hilang.
Bukan pula berarti seseorang tidak akan pernah merasa sedih, takut, kecewa, atau menangis.
Justru manusia tetap akan mengalami semua itu.
Namun, dengan hati yang semakin mengenal Allah, kita dapat belajar menghadapi semua keadaan dengan cara yang berbeda.
Ketika mendapatkan nikmat, kita belajar bersyukur.
Ketika mendapatkan ujian, kita belajar bersabar.
Ketika mendapatkan keberhasilan, kita belajar rendah hati.
Ketika mengalami kegagalan, kita belajar mengambil hikmah.
Ketika doa belum terkabul, kita belajar mempercayai Allah.
Dan ketika hidup terasa berat, kita belajar kembali kepada-Nya.
Pada akhirnya, perjalanan hidup bukan sekadar tentang mendapatkan apa yang kita inginkan.
Perjalanan hidup adalah tentang menjadi hamba yang semakin mengenal Allah.
Semoga buku ini menjadi bahan renungan, pengingat, dan jalan kecil bagi siapa saja yang ingin memperbaiki hati.
Semoga setiap hikmah yang dibaca tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berubah menjadi kesadaran.
Dan semoga kesadaran tersebut melahirkan amal, akhlak, kesabaran, keikhlasan, serta ketenangan dalam menjalani kehidupan.
Selamat menyelami hikmah.
Selamat melakukan perjalanan ke dalam hati.
Semoga setiap langkah membawa kita semakin dekat kepada Allah.