Nietzsche memakai perumpamaan dokter: orang Eropa ibarat pasien yang ingin sembuh, tetapi sekaligus ingin meneliti penyakitnya: moralitas dipahami sebagai gejala fisiologis, bukan sebagai hukum yang turun dari langit. Karena itu, pertanyaannya menjadi sederhana: apakah kita sungguh-sungguh mau bersedia melepas moral? Untuk dapat menolak nilai yang palsu, diperlukan disiplin, keberanian, dan kejujuran.
Salah satu simpul persoalan tampak pada figur pendeta sebagai penguasa simbolik. Skema ini kemudian menular ke para filsuf, lembaga, dan ajaran ‘perbaikan’ moral, hingga nilai moral berusaha menguasai pengetahuan, seni, dan politik. Pada lapisan yang lebih dalam, tatanan tersebut ditopang dorongan untuk menyeragamkan: dorongan kawanan yang merasa aman ketika yang kuat kehilangan pengaruh. Nietzsche lalu menyerukan ukuran nilai baru yang menegaskan kehidupan, bukan yang membenarkan sikap menyerah. Karena itu, pembaca diajak melihat manusia sebagai pencipta nilai, lalu menanggung akibat dari pilihannya sendiri.