Saat ulangtahun pacarku, aku pulang dalam keadaan mabuk. Dalam ketidaksadaranku, diam-diam abang iparku mengambil foto-foto vulgarku untuk dijadikan alat agar aku mau mengikuti semua permintaannya. Demi kecintaanku pada kakak perempuanku, aku tidak mau melakukan permintaan gila suaminya. Aku justru lebih memilih menghabisi nyawa lelaki itu dibandingkan harus menjadi budak nafsunya. Setelah aku membunuhnya, teror demi teror datang padaku. Sepertinya arwah abang iparku belum bisa tenang sebelum aku ikut mati bersamanya