Manusia Al Qur’an, setelah Rasulullah SAW, dicontohkan pada diri Ali bin Ahi Thalib, inilah manusia yang berbicara kepada emas dan perak, kepada kekuasaannya, “hai putih, hai kuning, tipulah orang selain aku”. Inilah juga manusia yang hampir rak henti-hentinya terjun di medan pertempuran. Ia melukiskan para pengikutnya—yang menirukan perilakunya—sebagai “rul> bah bil-lail usud bin-nar”, para paderi di malam hari dan singa-singa di siang hari.Imam Ali mencerminkan perpaduan nilai yang proporsional. Dan sebagai manusia, kita memiliki potensi untuk mencapai hal tersebut, hanya kita harus selalu mengingat ada suatu kekuatan gaib, yaitu Allah yang Maha Haq yang mesti diperhitungkan.
Buku yang ada di tangan Anda ini, dengan gemilang dan meyakinkan mampu memberi arahan dan bimbingan yang menyejukkan agar Anda mampu menjadi seperti Nabi SAW, menjadi manusia yang secara terus-menerus mampu menyerap asma Allah secara seimbang. Disampaikan oleh seorang pemikir besar, Syahid Murladha Muthahhari, buku ini berguna untuk memperbaiki pandangan kita tentang siapakah sesungguhnya yang disebut dengan manusia seutuhnya (insan kamil).
Manusia Al Qur’an, setelah Rasulullah SAW, dicontohkan pada diri Ali bin Ahi Thalib, inilah manusia yang berbicara kepada emas dan perak, kepada kekuasaannya, “hai putih, hai kuning, tipulah orang selain aku”. Inilah juga manusia yang hampir rak henti-hentinya terjun di medan pertempuran. Ia mel...