Rumah susun sering dipandang hanya sebagai bangunan bertingkat. Padahal di balik setiap pintunya tersimpan ribuan kisah tentang keluarga yang berjuang mempertahankan harapan, pemerintah yang berusaha menegakkan aturan, dan para pelayan publik yang setiap hari berdiri di antara ketegasan dan kemanusiaan.
Melalui tokoh Arya, novel ini membawa pembaca memasuki dunia yang jarang terlihat: ketika tunggakan sewa bertemu dengan kemiskinan, ketika relokasi melahirkan luka sosial, ketika aturan berbenturan dengan tekanan politik, ketika pembiaran perlahan berubah menjadi budaya, dan ketika sebuah organisasi dipaksa memilih antara bertahan dengan cara lama atau berani berubah demi pelayanan yang lebih bermartabat.
Di Balik Pintu-Pintu Rusun bukanlah kisah tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Ini adalah kisah tentang bagaimana keadilan harus diperjuangkan di tengah keterbatasan, bagaimana kebijakan publik seharusnya lahir dari kenyataan di lapangan, dan bagaimana pelayanan yang baik hanya dapat terwujud ketika pemerintah dan masyarakat berjalan bersama.
Buku ini akan membuat para pengambil kebijakan melihat bahwa setiap regulasi memiliki wajah manusia yang harus dipahami. Membuat anggota legislatif merasakan dampak nyata dari setiap keputusan yang disahkan. Mengingatkan lurah, camat, dan seluruh perangkat daerah bahwa rumah susun bukan wilayah yang berdiri sendiri, melainkan bagian utuh dari kehidupan kota yang membutuhkan kolaborasi semua pihak.
Bagi pengelola rumah susun, novel ini adalah cermin tentang arti kepemimpinan, integritas, dan keberanian mengambil keputusan yang tidak selalu populer. Bagi RT, RW, tokoh masyarakat, dan para penghuni, buku ini mengajak melihat bahwa rumah susun bukan hanya tempat tinggal, tetapi sebuah komunitas yang hanya akan tumbuh apabila hak dan kewajiban dijaga bersama.
Di setiap halaman, pembaca tidak hanya diajak mengikuti sebuah cerita, tetapi juga diajak merenungkan satu pertanyaan yang sangat sederhana:
Apakah pemerintah hanya membangun rumah… atau sedang membangun harapan?
Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah rumah susun tidak diukur dari jumlah lantainya, bukan pula dari besarnya anggaran yang dikelola. Keberhasilannya diukur dari seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik, seberapa besar kepercayaan yang berhasil dibangun, dan seberapa lama harapan tetap menyala di balik pintu-pintu yang sederhana.
Sebuah novel yang akan mengubah cara Anda memandang rumah susun, pelayanan publik, dan arti sebuah pengabdian.
Muhammad Ali alias Ali Effendi Laman adalah seorang penulis sekaligus adalah seorang ASN yang telah bekerja selama 32 tahun, sudah banyak menulis buku tentang pemerintahan, sosial dan psikology. Saat ini menjabat sebagai kepala unit pengelola rumah susun v (UPRS V) yakni Unit Pelaksana Teknis dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi DKI Jakarta.