Dalam cerpen pembuka “Kuli Kontrak”, Mochtar Lubis menggambarkan kehidupan getir para buruh perkebunan di bawah kekuasaan kolonial yang kejam. Seorang ayah, pegawai pemerintah lokal, terpaksa menyiksa bangsanya sendiri karena tunduk pada perintah penguasa Belanda—sementara anaknya menjadi saksi bisu dari kekejaman sistem yang menelan nurani manusia.
Kisah-kisah lain menyoroti berbagai wajah rakyat kecil dengan gaya realisme yang sederhana, jernih, dan menggugah: ada penjual potret keliling yang berpindah dari kampung ke kampung, kisah jenaka tentang kepercayaan mistik di desa, hingga kisah mengharukan tentang kesetiaan seekor anjing dalam “Sinyo Brandi”.
Melalui cerpen-cerpennya, Mochtar Lubis menegaskan bahwa nasib rakyat amat bergantung pada sistem sosial dan politik yang mengatur mereka. Ia menulis tanpa hiasan berlebih, namun setiap kalimatnya menyentuh dan penuh makna—memadukan ironi, humor getir, serta refleksi moral yang tajam.
Kuli Kontrak bukan sekadar kumpulan cerita pendek, melainkan cermin nurani bangsa. Sebuah karya sastra yang menyingkap luka sosial, mempertanyakan keadilan, dan mengingatkan bahwa kemanusiaan, betapapun sering terluka, selalu menemukan cara untuk bertahan.