Bab demi bab dalam buku ini, penulis berupaya untuk membangun satu benang merah yang koheren, cinta diposisikan sebagai fondasi relasi eksistensial manusia, moralitas sebagai tanggung jawab personal yang lahir dari kesadaran, metafisika sebagai medan refleksi rasional, serta pendidikan sebagai proses humanisasi yang menentukan arah kebebasan manusia. Dengan dialog kritis terhadap pemikir-pemikir seperti Plato, Aristoteles, Gabriel Marcel, Martin Buber, Descartes, hingga Tan Malaka, buku ini menawarkan kritik sosial-politik terhadap negara dan kekuasaan, serta mengembalikan pusat etika pada martabat manusia sebagai subjek yang berpikir dan memilih.
Mochamad Burhannudin, akrab disapa Liam, adalah penulis dan pembaca otodidak yang menempuh pendidikan formal hingga Sekolah Menengah Pertama. Ia bekerja sejak lulus sekolah dan menjadikan pengalaman hidup sebagai ruang pembelajaran. Lahir di Sarang, Rembang. Yaitu sebuah wilayah dengan tradisi keagamaan kuat, ia tumbuh dengan ketertarikan pada budaya sekaligus sikap kritis terhadapnya. Liam dapat ditemui melalui platform media sosial Instagram pada akun @cruelliam.