Dimulai dari kejanggalan data penerima bantuan hingga keterlibatan dalam jaringan tak kasat mata, Raka menyadari bahwa bantuan bukan sekadar bantuan, melainkan alat untuk membeli pengaruh. Setiap paket, setiap nama, bahkan setiap cerita kemiskinan, memiliki nilai yang bisa ditukar dengan sesuatu yang lebih besar—suara.
Ketika kebenaran mulai terkuak, pilihan yang tersedia bukan lagi soal benar atau salah, melainkan bertahan atau hancur. Dalam dunia di mana semua sudah diatur, idealisme menjadi barang mewah yang mahal, dan diam bisa dibayar lebih tinggi daripada kejujuran.
Novel ini tidak menawarkan pahlawan, tidak juga keadilan. Hanya satu pertanyaan yang tersisa: jika semua orang punya harga, berapa nilai suara Anda?