Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman, kesedihan, rasa bersalah, keterasingan, dan hubungan keluarga Mary Shelley masuk ke dalam karya fiksi tersebut dan diubah menjadi bentuk sastra. Karena itu, Mathilda sebaiknya dibaca sebagai karya sastra pada dirinya sendiri: sebuah pengakuan fiktif yang lahir dari pengalaman emosional yang nyata.
Dan mungkin justru di situlah kekuatan terbesar novela ini. Mary Shelley tidak hanya menciptakan sebuah tragedi tentang seorang perempuan dan ayahnya. Ia menciptakan sebuah suara yang berbicara dari ambang kematian, menoleh ke masa lalu, berusaha memahami cinta, kehilangan, rasa bersalah, dan kemungkinan penebusan.
Nyaris satu setengah abad setelah suara itu pertama kali dituliskan, kita akhirnya dapat membacanya.
MARY Wollstonecraft Shelley (1797–1851) adalah seorang novelis Inggris yang namanya abadi melalui karyanya yang monumental, Frankenstein; or, The Modern Prometheus (1818). Lahir di London pada 30 Agustus 1797, ia adalah putri dari dua intelektual radikal pada zamannya: filsuf anarkis William Godwin dan pelopor feminis Mary Wollstonecraft. Namun, kebahagiaan kelahirannya segera berubah menjadi duka; ibunda tercinta meninggal dunia hanya sepuluh hari setelah melahirkannya akibat demam nifas, sebuah kondisi yang umum terjadi pada masa itu akibat kurangnya pemahaman medis tentang kebersihan.
Kehilangan seorang ibu sejak dini membentuk masa kecil Mary yang penuh gejolak. Empat tahun kemudian, ayahnya menikah lagi dengan Mary Jane Clairmont, yang membawa serta dua anaknya sendiri. Hubungan Mary dengan ibu tiri barunya tidak pernah harmonis; ia merasa iri dengan hubungan dekat Mary dengan sang ayah dan berusaha menjauhkan mereka. Meskipun demikian, masa kecil Mary dihabiskan dengan belajar otodidak di perpustakaan luas milik ayahnya, yang memberinya akses ke berbagai pengetahuan dan mengenalkannya pada lingkaran intelektual Godwin yang berisi tokoh-tokoh seperti Samuel Taylor Coleridge dan William Wordsworth.
Pada tahun 1812, pada usia 16 tahun, Mary bertemu dengan penyair romantis Percy Bysshe Shelley, seorang pengagum karya ayahnya. Hubungan asmara yang penuh gejolak segera terjalin, meskipun saat itu Percy sudah menikah. Pada Juli 1814, mereka memutuskan untuk melarikan diri ke Prancis—sebuah tindakan yang membuat ayahnya murka dan memutuskan hubungan dengannya. Selama bertahun-tahun berikutnya, Mary dan Percy menjalani kehidupan yang penuh dengan kesulitan keuangan dan tragedi pribadi.
Pada Februari 1815, Mary melahirkan seorang anak perempuan prematur yang hanya bertahan beberapa hari saja, sebuah peristiwa yang sangat mempengaruhinya dan termanifestasi dalam mimpinya tentang bayi yang "hidup kembali". Dua tahun kemudian, kakak tiri Mary, Fanny, dan istri pertama Percy secara terpisah bunuh diri. Setelah kematian istri pertamanya, Mary dan Percy akhirnya menikah pada Desember 1816.
Musim panas tahun 1816 menjadi titik balik dalam hidup Mary. Saat berlibur di Jenewa, Swiss, bersama Percy, Lord Byron, dan dokter John Polidori, sebuah tantangan melahirkan sebuah mahakarya. Dalam sebuah malam yang penuh badai, Lord Byron mengusulkan agar setiap dari mereka menulis sebuah cerita hantu. Pada malam itu juga, Mary mendapatkan ide tentang seorang ilmuwan yang menciptakan kehidupan. Dari mimpi buruk yang mengerikan itulah lahir Frankenstein—sebuah novel yang memadukan unsur Gotik, filsafat, dan fiksi ilmiah. Novel ini pertama kali diterbitkan secara anonim pada tahun 1818, dan baru pada edisi 1823 nama Mary Shelley tercantum sebagai penulisnya.
Setahun setelah kesuksesan Frankenstein, pada tahun 1819, Mary menulis sebuah novela berjudul Mathilda. Karya ini memiliki latar belakang yang sangat unik dan tragis. Ceritanya berpusat pada seorang gadis muda yang menyaksikan ibunya meninggal saat melahirkannya, dan kemudian menghadapi cinta terlarang dari ayahnya sendiri—tema inses yang sangat sensitif dan sarat dengan elemen otobiografi yang merefleksikan kehidupan Mary sendiri.
KlikNovel adalah platform baca terjemahan novel public domain dunia.