Menghadapi penderitaan akibat gejolak politik yang menewaskan saudara dan suaminya, Ratu Kalinyamat menempuh perjalanan spiritual "Laku Topo Wudo Sinjang Rambut" untuk mencari keadilan. Namun, makna sejati dari perjalanan ini sering disalahpahami. Buku ini hadir sebagai jawaban untuk meluruskan sejarah. Selamat membaca, semoga bermanfaat.
Mohammad Nur Arifin lahir padaĀ
hari Kamis, Syawal 1408 H / MeiĀ
1988 di Dukuh Sonder, Desa Tulakan,Ā
Kecamatan Donorojo, KabupatenĀ
Jepara, Jawa Tengahātempat di manaĀ
Pertapaan Ratu Kalinyamat berada.Ā
Ia adalah putra kedua dari pasanganĀ
Bapak Munawar dan Ibu Kiswati.
Masa kecilnya dihabiskan dengan kegiatan khas anak desa,Ā
seperti menggembala kambing bersama teman sebaya danĀ
bermain air di sungai (jeguran). Dalam perjalanan pendi-
dikannya, ia menempuh pendidikan sebagai santri di MAKĀ
NU TBS Kudus (2003), kemudian meraih gelar SarjanaĀ
Tasawuf dan Psikoterapi pada tahun 2011 dan menyele-
saikan Magister Manajemen Pariwisata pada tahun 2019.
Buku ini merupakan hasil dari skripsi yang telah diujiĀ
dan dinyatakan lulus pada tahun 2010. Keputusan untukĀ
menerbitkannya dalam bentuk buku lahir dari kegelisahanĀ
selama lebih dari 15 tahun tentang pentingnya menye-
barkan ilmu. Penulis berharap karya ini dapat membawaĀ
kebaikan dan keberkahan bagi semua yang membacanya.
Saat ini, Penulis aktif dalam berbagai organisasi dan profesi,Ā
di antaranya:
- Ketua Yayasan ASAIDA Kota Serang
- Ketua Yayasan Kalinyamat Sonder (Jepara)
- Ketua PERGUNU (Persatuan Guru NU) KecamatanĀ
Serang (periode 2021ā2026)
- Bendahara II, PWNU Provinsi Banten
- Bekerja di Kementerian Ketenagakerjaan RI, BBPVPĀ Serang