Tidak semua logika Aristoteles dan Neo Platonisme ditentang oleh Imam Ghazali, namun pandangan yang kebablasan yang sangat berbeda dengan Pandangan Teologi Islam inilah yang sangat ditentang. Contohnya tentang Keazalian atau ke Qadiman Penciptaan dimana Ahli Pikir Islam sangat terpengaruh dengan FIlsafat Logika Aristoteles.
Al Farabi dan Ibnu SIna dengan pandangannya yang sangat cemerlang menggunakan Logikanya dengan argumenya mengatakan Alam semesta adalah Qadim sebagaimana Tuhan itu sendiri karena sejak Azal dia Berkehendak Mencipta, sehingga tidak mungkin alam semesta terbatas hanya 6000 tahun seperti yang dibayangkan oleh pandangan agama yang saat itu dipengaruhi oleh Yahudi.
Namun Imam Ghazali membantahnya, dengan logika, waktu adalah ciptaan, waktu timbul karena penciptaan, sehingga sebelum penciptaan tidak ada waktu, akibatnya Logika Filsafat juga salah, apalagi kemudian jauh-jauh hari di dalam kosmologi modern seperti Teori Big Bang yang menunjukkan bahwa alam semesta memiliki permulaan, sehingga polemik al-Ghazali bukan hanya teologis tetapi juga menyentuh persoalan fundamental tentang asal-usul waktu dan eksistensi itu sendiri.
Namun tidak semua Logika Filsafat salah, namun logika tentang FIrst Intelek atau Akal Pertama Filsafat Aristoteteles dan Plato dan FIlsafat Yunani lainnya diterima di dalam Islam namun disempurnakan dengan lebih baik lagi oleh Ulama Muslim seperti Ibnu 'Arabi.
Buku ini adalah buku yang terbaik di dalam Logika, bagaimana Teori okasionalisme Radikal yang dibawa Oleh Teolog Islam seperti Imam Ghazali Al Asyari dan Al Maturidi menjadi Fondasi Ahlussunah wal Jama'ah. Kemudian corak ini begitu Indahnya diuraikan oleh sang Maestro SYaikh dan guru kami Ibnu al 'Arabi di dalam semua kitabnya.
Terjemah Tahafut Al Falasifah ini menjadi pegangan wajib bagi pencari ilmu Logika yang nantinya akan menuntun kepada Ilmu Metafisika atau Tashawuf.
Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111 M) adalah ulama ensiklopedis yang memadukan fikih, teologi, filsafat, dan tasawuf dalam satu horizon keilmuan; setelah meniti puncak prestise akademik, ia mengalami krisis batin yang mendorongnya meninggalkan kemapanan demi pemurnian niat dan disiplin spiritual. Dari pengembaraan intelektual-ruhani itu lahir karya-karya monumental, dengan Ihya’ ‘Ulum al-Din sebagai epos etika-spiritual yang menghidupkan kembali makna ilmu sebagai pembentuk akhlak, bukan sekadar perangkat argumentasi. Warisannya membentangkan sintesis berani: akal diuji secara kritis, tradisi diteguhkan, dan pengalaman rohani dijadikan poros transformasi diri.