Buku ini ditulis oleh orang yang pernah tanda tangan KPR di kantor notaris jam dua siang, dengan tangan agak gemetar karena angkanya terlalu besar. Setahun kemudian, ia mulai hitung ulang. Bukan karena cicilannya berat, tapi karena ia sadar: total yang ia bayar selama dua puluh tahun bukan Rp 380 juta. Total itu adalah Rp 888 juta.
Buku ini bukan anti-KPR. KPR itu alat. Masalahnya hampir tidak ada yang menjelaskan ke kamu sebelum kamu pegang alat itu, bahwa ada sisi tajam yang tidak terlihat dari brosur.
Yang dibahas dalam buku ini:
- Bagaimana bunga KPR benar-benar bekerja, bukan versi yang dijelaskan marketing, tapi versi yang kamu rasakan di rekening setiap bulan
- Ke mana uang DP kamu pergi, dan mengapa hampir 70 persen cicilan tahun-tahun awal masuk ke bunga, bukan pokok
- Biaya-biaya tersembunyi yang tidak pernah masuk dalam simulasi cicilan di brosur: asuransi jiwa wajib, BPHTB, AJB, biaya appraisal, biaya provisi
- Opportunity cost dua puluh tahun, dihitung dengan tabel lengkap, yang akan membuat narasi "ngontrak buang uang" terdengar berbeda
- Jebakan tenor panjang dan kapan KPR memang masuk akal secara finansial
- Checklist dua belas poin sebelum tanda tangan, yang bisa kamu gunakan sendiri
Untuk siapa buku ini:
- Orang yang sedang dalam proses mempertimbangkan KPR dan belum tanda tangan
- Pasangan muda yang mendapat tekanan sosial atau keluarga untuk segera beli rumah
- Siapa pun yang ingin memahami mekanisme utang perumahan sebelum mengambilnya
Keputusan dua puluh tahun tidak boleh diambil dalam satu weekend. Buku ini adalah alasannya.
Ibrahim Anwar, yang dikenal sebagai Hibranwar, adalah pengusaha dan penulis yang bekerja di persimpangan teknik, bisnis, dan konten. Latar belakang Sastra Belanda dari Universitas Indonesia. Tiga PT: Arsindo (pompa industri), Witanabe (jasa engineering), Hibrkraft (kulit dan publishing). Ratusan publikasi digital. Menulis sebagai sistem, bukan ekspresi. Langsung dan fungsional. ORCID 0009-0006-0425-4923. Ia menulis buku ini dari posisi seseorang yang sudah pernah melewati akad kredit dan menghabiskan bertahun-tahun memahami apa yang sebenarnya ia setujui saat itu.