Selisih 2 juta NIK terlihat kecil dibanding 278 juta total. Tetapi ketika 2 juta identitas itu dipakai untuk klaim LPG 3 kg, BPJS PBI, bantuan sosial DTKS, dan subsidi listrik, dampaknya estimasi Rp 2.9 triliun per tahun. Itu uang publik yang mengalir ke nama orang yang sudah meninggal, ke duplikasi kartu, dan ke NIK fiktif. Buku ini menjelaskan tiga sumber inakurasi, empat konsekuensi ekonomi konkret, dan kenapa reformasi sistem identitas Indonesia jalan lambat dibanding India (Aadhaar), Estonia (e-Identity), dan Singapore (SingPass).
Setelah baca, Anda akan punya kerangka untuk membaca berita subsidi salah sasaran tanpa langsung menyalahkan eksekusi di lapangan, dan tahu titik tekan mana yang masuk akal untuk advocacy: integrasi otomatis Dukcapil ke BPJS, mandatory cross-check, atau insentif pelaporan kematian formal.
Yang Akan Anda Temukan
- Tiga sumber utama inakurasi NIK: kematian tidak terlapor, migrasi luar negeri, dan duplikasi kartu
- Estimasi Rp 2.9 triliun per tahun dampak fiskal, terurai per program (LPG, BPJS, DTKS, listrik)
- Mengapa BPJS PBI membayar premi sekitar Rp 280 miliar per tahun untuk identitas yang sudah tidak hidup
- Skor akurasi data identitas Indonesia (6/10) dibanding Estonia, Singapore, Korea Selatan, dan India
- Status realistis tiga inisiatif Indonesia: KTP-el biometric, Single Identity Number, dan OSS Kemendagri
Untuk Siapa Buku Ini
- Pembuat kebijakan dan staf kementerian yang menangani subsidi atau bansos
- Analis data publik, wartawan investigasi anggaran, dan akademisi tata kelola
- Warga yang skeptis terhadap dashboard pemerintah dan ingin baca data Dukcapil sendiri
Topik & Kata Kunci
nik dukcapil, ktp elektronik, subsidi salah sasaran, dtks, bpjs pbi, lpg 3 kg, single identity number, aadhaar india, e-estonia, data demografi indonesia, governance data publik, civil registration
ORCID: 0009-0006-0425-4923.