Dengan tauhidlah dan berpegang teguh pada Al-quran dan as-Sunnah itulah seorang Muslim menghadapi masalah dan persoalan hidup. Hal ini tercermin dalam pendirian seorang Muslim ketika hidup di tengah masyarakat tercermin dalam kebudayaan yang tercipta, dan dalam usahanya mencari pengetahuan seluas-luasnya.
Buku ini berisi tentang perenungan yang membawa pencerahan bagi hati dan jiwa setiap Muslim tentang pandangan hidupnya atau konsep hidupnya. Sudahkan setiap Muslim benar-benar telah menjadikan Islam sebagai pandangan hidup, sebagai pedoman hidup.
Melalui pembahasan yang disampaikan, Buya Hamka ingin mengingatkan, hendaknya setiap Muslim telah memiliki pandangan hidup yang benar sehingga dapat menempatkan segala sesuatu di dunia dengan benar menurut pandangan Allah, baik meliputi persoalan sesama manusia maupun hubungannya dengan Sang Pencipta. Sebab telah terbukti seluas-luasnya pikiran manusia, ia akan sampai pada titik keterbatasannya. Sehebat-hebatnya manusia, ia mati dan meninggalkan segala kebanggaannya.
[Gema Insani] [Buya Hamka] [Hamka]
Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah gelar Datuk Indomo, pemilik nama pena Hamka (lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Ia terjun dalam politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyahsampai akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamkamilik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.
Seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu, Hamka tercatat sebagai penulis Islam paling prolifik dalam sejarah modern Indonesia. Karya-karyanya mengalami cetak ulang berkali-kali dan banyak dikaji oleh peneliti Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Tulisannya telah menghiasi berbagai macam majalah dan surat kabar. Yunan Nasution mencatat, dalam jarak waktu kurang lebih 57 tahun, Hamka melahirkan 84 judul buku. Minatnya akan bahasa banyak tertuang dalam karya-karyanya. Di Bawah Lindungan Ka'bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan Merantau ke Deli yang terbit di Medan melambungkan nama Hamka sebagai sastrawan. Ketiganya bermula dari cerita bersambung yang diterbitkan oleh majalah Pedoman Masyarakat. Selain itu, Hamka meninggalkan karya tulis yang menyangkut tentang sejarah, budaya, dan bidang-bidang kajian Islam.