Oseania hidup di bawah tatapan Big Brother. Masa lalu ditulis ulang, kenyataan dapat diubah, dan bahkan pikiran yang menyimpang bisa mengantar seseorang ke penghapusan total. Namun di tengah ketakutan itu, Winston menyimpan hasrat sederhana yang terlarang: mencari kebenaran, mencintai, dan menjadi manusia.
1984 adalah distopia klasik George Orwell yang terasa makin dekat dari zaman ke zaman—sebuah novel tentang pengawasan, propaganda, bahasa, kekuasaan, dan harga mengerikan dari kebebasan.
Big Brother sedang mengawasi.
George Orwell adalah nama pena Eric Arthur Blair (1903–1950), novelis, esais, jurnalis, dan pengkritik sosial asal Inggris. Ia dikenal karena tulisan-tulisannya yang tajam tentang kekuasaan, ketimpangan, propaganda, dan kebebasan individu.
Pengalamannya sebagai polisi kolonial di Burma, hidup di tengah kemiskinan di Paris dan London, serta keterlibatannya dalam Perang Saudara Spanyol membentuk pandangan politik dan kemanusiaannya. Karya-karya pentingnya antara lain Peternakan Binatang dan 1984, dua novel yang menjadikan namanya salah satu suara paling berpengaruh dalam sastra abad kedua puluh.
Melalui prosa yang jernih dan tanpa kompromi, Orwell memperingatkan pembacanya tentang bahaya totalitarianisme—peringatan yang tetap terasa relevan hingga hari ini.
Singgih Aji Susilo adalah penerjemah Indonesia yang menaruh perhatian pada karya-karya sastra klasik dunia. Dalam penerjemahannya, ia berupaya menghadirkan bahasa Indonesia yang alami, jernih, dan tetap menjaga suasana serta ketajaman karya aslinya.
Pada edisi 1984 ini, Singgih menerjemahkan langsung dari bahasa Inggris, sekaligus menangani penyuntingan dan penataan letak. Edisi ini disiapkan agar dunia suram George Orwell—beserta kritiknya terhadap kekuasaan, propaganda, dan pengawasan—tetap terasa dekat bagi pembaca Indonesia masa kini.