Mikronutrien terdiri atas 13 macam vitamin dan 16 macam mineral yang masing-masing mempunyai fungsi yang spesifik di dalam metabolisme dengan angka kecukupan yang berbeda pula. Pemenuhan kecukupan mikronutrien pada remaja menjadi lebih sulit karena diet remaja itu buruk, termasuk asupan makanan olahan yang tidak sehat. Dampak asupan mikronutrien yang buruk tersebut menyebabkan gangguan tumbuh kembang, obesitas, gangguan metabolisme, dan masalah pubertas.
Masalah kecukupan mikronutrien berupa kekurangan atau kelebihan. Namun demikian, kekurangan mikronutrien lebih sering dijumpai. Berdasarkan penelitian di berbagai negara remaja mengalami kekurangan vitamin A, D, B-12, folat, besi, kalsium, zink, dan selenium. Hasil penelitian di Indonesia juga menunjukkan data serupa, bahkan kekurangan mikronutrien tertentu mencapai 90% dari angka kecukupan gizi yang dianjurkan.
Kekurangan mikronutrien ini perlu mendapatkan perhatian, terutama untuk remaja perempuan, karena mereka akan melahirkan anak-anak generasi penerus bangsa. Kekurangan mikronutrien dapat diatasi dengan edukasi makanan bergizi, suplementasi, fortifikasi, biofortifikasi, dan rekayasa genetik. Dari semuanya, edukasi makanan bergizi dan suplementasi dianggap menghasilkan hasil yang lebih baik pada saat ini.