Di lapangan itu selalu ada Pak Jono, guru olahraga anak anak. Dia pindahan dari kota tetangga, mutasi katanya, sejak sekitar 1 tahun lalu. Duda, tapi sudah cukup berumur, sekitar 50 tahunan, lebih tua daripada rata-rata orang tua di SD ini. Namanya sering sekali disebut oleh anakku dan juga oleh beberapa ibu-ibu lain yang sering datang menjemput. Pak Jono ini orangnya ramah dan santai. Dia suka bercanda dengan murid-muridnya, dan leluconnya sering membuat anak-anak tertawa. Tubuhnya tinggi, entah seberapa tingginya, tapi yang jelas di atas rata-rata laki-laki, tapi bukan tinggi kurus biasa. Badannya penuh otot, walaupun perutnya sedikit buncit khas pria setengah baya. Kulitnya berwarna sawo matang gelap, hampir kehitaman. Rambutnya dipotong pendek cepak, dan senyumnya lebar. Ada yang bilang bahwa sebenarnya dia intel yang nyamar, bukan guru SD biasa. Ah itu kata bu Neneng. Kata pak Akhyar guru kelas anakku, pak Jono selain guru olahraga juga nyambi jadi instruktur olahraga untuk pelatihan satpam.
Baru empat bulan yang lalu aku mendengar kabar bahwa dia baru saja bercerai. Katanya istrinya yang meminta cerai, tapi tidak ada yang tahu pasti alasannya. Kedua anaknya ikut istrinya. Sejak itu dia hidup sendiri sebagai seorang duda. Anehnya, status duda itu malah membuatnya semakin populer di sekolah. Bukan hanya karena dia guru olahraga yang menyenangkan, tapi juga karena dia punya keahlian lain yang luar biasa: memijat. Banyak yang bilang tangannya seperti memiliki kekuatan ajaib. Malah banyak yang bercerita, beberapa orang tua murid pernah memanggilnya datang ke rumah untuk memijat. Mereka minta dipijat pundak, pinggang, atau betis yang terasa pegal. Aku pernah mendengar langsung salah satu dari mereka berkata, "Wah, pijatan Pak Jono enak sekali, badan langsung terasa ringan!"
....
Penyuka konten seru dan suka menulis ulang cerita-cerita jadul supaya relevan dengan jaman dan lebih menarik.