Terikat pernikahan di usia belia, dengan kakak kelasnya, yang juga masih belia, membuat Mariyam menjalani hari-hari yang berat. Sekalipun mertuanya orang yang baik dan cukup berada di desanya, namun Mariyam tak merasa bahagia. Apalagi suaminya, Raksan, adalah laki-laki yang belum mandiri. Ia tidak bekerja dan hanya bermain-main saja saban hari bersama teman-temannya.
Sampai suatu hari, Mariyam yang tumbuh semakin dewasa, kecewa pada ibunya. Ibunya merahasiakan pernikahannya, sehingga membuat Mariyam salah paham. Mariyam akhirnya memutuskan pergi dari kampung halamannya. Meninggalkan suaminya, meninggalkan ibunya, meninggalkan pernikahannya.
Petualangan Mariyam pun dimulai. Dia merantau ke kota, bekerja, bersekolah, dan akhirnya pun bisa kuliah sampai memperoleh gelar magister.
Keluarga tempat dimana ia bekerja begitu baik dan menganggap Mariyam sebagai anggota keluarga. Mariyam juga memutuskan untuk mengubah namanya, sebab ia ingin menghapus semua masalalunya.
Namun, pertalian darah ibu dan anak tidak bisa diputus. Saat Mariyam sudah meraih impiannya, Mariyam baru menyadari betapa ia kesepian selama ini. Ia rindu ibunya. Ia terus bermimpi dan melihat ibunya di penjuru rumahnya. Mariyam tak kuasa lagi menahan rindunya, maka ia pun memutuskan kembali ke kampung halaman dan mencari ibunya.
Apa yang akan terjadi? Apakah Mariyam menemukan ibunya? Bagaimana sikap Mariyam saat bertemu suaminya, Raksan, yang sudah 15th ia tinggalkan?
Novel ini sangat menggugah. Romantisme, perjuangan dalam meraih cita-cita, serta ketulusan kasih sayang ibu pada anaknya yang diramu dengan sangat indah lewat bahasa dan gaya bercerita. Banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari novel ini.
Jadi, selamat membaca!
Azizah Hefni (Zizi), lahir di Surabaya, 03 April 1987.
Aktif menulis cerpen sejak SMA, tahun 2004.
Karya pertamanya, Surat Ke Barzah, dimuat di
majalah Annida pada tahun 2004. Setelah itu, karyakaryanya
dimuat di media lokal maupun nasioal. Pernah
juga menjuarai lomba cerpen tingkat nasioanal yang
diadskan Menpora, sebagai juara 2, dengan judul Cerpen
Pintu Yang Terkunci. Karyanya jg terhimpun di antologi
cerpen Pleedoi, Kalibakar, Don’t Leave Me Alone, dll.
Antologi cerpen tunggalnya adalah Pertemuan di Rintik
Hujan.
Selain menulis cerpen, dia juga aktif menulis
buku, mulai dari buku perempuan, biografi, novel,
motivasi, how to, dan juga cerita anak. Buku2 tersebut
adalah Novel Wanita-Wanita Matahari, buku remaja
Arti Sahabat, Press Your Syahwat, dan buku biografi
Taman Cinta Sang Rosul dan masih banyak lagi.
Kini tinggal di Bantul, Yogyakarta, sambil
mengajar dan melukis.