Aidan terbiasa hidup dalam sunyi. Tumbuh dalam himpitan kemiskinan, ia harus merelakan sekolahnya demi bertahan hidup. Namun, di balik kesederhanaannya, Aidan menyimpan kecerdasan luar biasa di bidang teknologi dan simbol. Pesan terakhir ayahnya hanya satu: kejarlah mimpimu dan genggamlah sampai akhir.
Sepuluh tahun berlalu, Aidan bertransformasi menjadi mahasiswa berprestasi yang misterius. Potensinya di dunia IT yang selama ini hanya menjadi hobi, seketika berubah arah saat ia bertemu Marine. Sosok misterius itu membuka pintu gelap yang tak pernah Aidan bayangkan sebelumnya: dunia cracking.
Demi mengumpulkan pundi-pundi uang dan ambisi menjadi profesor, Aidan mulai menembus dinding pertahanan digital. Namun, setiap kode yang ia pecahkan membawanya semakin dalam ke pusaran konspirasi politik dan pengkhianatan yang mengancam nyawanya. Di tengah kejaran otoritas, Aidan harus memilih: terus bersembunyi dalam kesunyian seperti paus 52 Hertz, atau muncul ke permukaan untuk mengungkap kebenaran?
Karena terkadang, mimpi yang paling indah harus dicapai melalui jalan yang paling gelap.
Audy Arassh lahir di Bekasi dan merupakan lulusan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Keterkaitannya dengan fenomena dan misteri di dalam laut menginspirasi lahirnya novel 52 Hertz.
Sebagai penulis, ia telah melahirkan beberapa karya solo dalam berbagai genre, di antaranya buku tunggal non-fiksi berjudul Gue Banget! (2019) bersama tim @guebanget, serta antologi puisi tunggal Aku dan Bumi (Guepedia, 2019). Selain itu, ia juga aktif berkontribusi dalam puluhan proyek antologi cerpen dan puisi sejak tahun 2019.
Di waktu luangnya, Audy adalah penikmat buku fiksi fantasi, musik, dan game. Melalui tulisan-tulisannya, ia ingin mengajak pembaca untuk selalu menghargai hal-hal kecil dan memandang dunia dengan sudut pandang yang lebih luas.
Sapa dan jalin jejaring dengan penulis melalui:
Instagram: @audyrmdhni / @thenotes.ars
Email: audyramadhani@gmail.com