Akhir-akhir ini orang bilang Indonesia sedang kembali ke era Orde Baru. Terpilihnya Presiden Prabowo, sosok yang secara kekeluargaan maupun ideologis dekat dengan Soeharto, seolah menandakan kemunduran kita menjauh dari cita-cita Reformasi 1998. Tetapi, sejauh mana sebenarnya gerak mundur itu? Benarkah pasca-Reformasi kita mengalami progres hebat? Apa yang sama dan tidak sama dari masa kini dengan masa lalu? Dan apa yang bisa kita pelajari dari segala persamaan dan perbedaan itu? Nasib Publik dalam Republik disusun dengan semangat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Seratus kolom Ariel Heryanto ini, salah satu dari sedikit intelektual-akademikus yang bersetia menulis sepanjang empat puluh tahun lebih kariernya, diharapkan bisa memberi kita pengetahuan atas apa yang pernah terjadi, sedang terjadi, dan mungkin terjadi lagi pada kita sebagai bangsa. — Perspektifnya segar! Selalu ada nakal-nakalnya, kritis, dan tajam. —Evi Mariani, Pendiri dan Pemimpin Umum Project Multatuli Penting ketika terbit saat ini...karena menguatnya militerisme dan otoritarianisme. —Ita Fatia Nadia, Ketua Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan (RUAS) Tidak sah rasanya kita kalau ingin membangun literasi di Indonesia tapi tidak membaca buku Ariel Heryanto. —Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International Kita semua dapat berkontemplasi bersama, menemukan wawasan serta renungan yang segar di dalam buku ini. —Dewi Lestari, Pengarang, Penyanyi, dan Penulis Lagu Jangan tertipu dengan ketebalan buku ini! Isinya pendek-pendek untuk dinikmati namun menghentak realitas keindonesiaan yang seolah-olah baik-baik saja. —FX Domini BB Hera, Dosen Departemen Humaniora & Interdisipliner Universitas Ciputra Surabaya dan Guru Sejarah SMA HelloMotion Malang.
Akhir-akhir ini orang bilang Indonesia sedang kembali ke era Orde Baru. Terpilihnya Presiden Prabowo, sosok yang secara kekeluargaan maupun ideologis dekat dengan Soeharto, seolah menandakan kemunduran kita menjauh dari cita-cita Reformasi 1998. Tetapi, sejauh mana sebenarnya gerak mundur itu? Be...