Robeknya Sutra Kesetiaan: Dinamika Pengkhianatan, Eksplorasi Sensual, dan Balas Dendam Seorang Istri yang Terluka

Ā· Love Story Publisher
1 review
Ebook
418
Pages
Eligible

About this ebook

Di tepian Sungai Siak yang basah, kesetiaan seorang istri terkoyak oleh pengkhianatan suaminya, memicu eksplorasi sensual yang mengubah lukanya menjadi senjata mematikan. Puan Zuraida dulu adalah pilar kepatuhan di rumah panggungnya, hidup mematung dalam kehampaan pernikahan yang diwarnai aroma tuak dan janji-janji yang membusuk. Namun, batas kesabaran itu akhirnya runtuh. Alih-alih meratapi nasib saat sutra kesetiaannya robek, Zuraida menolak untuk hancur. Ia justru menemukan kebebasan batinnya yang paling liar melalui sebuah gairah terlarang yang selama ini diredamnya rapat-rapat.

Terjebak dalam perangkap madu yang perlahan ia tenun sendiri, Zuraida mulai memutarbalikkan takdir. Kehadiran kembali masa lalunya membuka gerbang menuju dinamika pengkhianatan yang memabukkan dan dipenuhi tensi maksimal. Di bawah rintik hujan Pekanbaru, setiap sentuhan terlarang dan desah napasnya menjadi tarian balas dendam seorang istri yang terluka. Melalui narasi batin yang kelam namun puitis, saksikan bagaimana Zuraida bertransformasi; dari seorang korban yang ditindas menjadi ratu absolut yang berani mengambil alih kendali atas tubuh, hasrat, dan jalan hidupnya.

šŸŒ§ļø Romansa Kelam Berbalut Dendam: Menyelami ketegangan psikologis seorang istri yang membalas luka hatinya melalui jalan perselingkuhan yang panas, tabu, dan intens. šŸ”„ Eksplorasi Sensual yang Blak-blakan: Ditulis dengan gaya evokatif yang memadukan bahasa puitis dengan adegan dewasa tanpa sensor, mengaduk emosi langsung dari sudut pandang sang protagonis. šŸŽ­ Evolusi Karakter yang Membebaskan: Sebuah kisah kebangkitan wanita yang berani mendobrak norma, menari di atas dosa, dan merebut kembali takhta kepuasannya.

Seberapa jauh Puan Zuraida berani merajut dosa demi menghancurkan pria yang telah meremukkan hatinya? Jangan biarkan rasa penasaran ini menahan Anda. Baca sampel gratisnya sekarang, dan biarkan gairah gelap di rumah panggung ini ikut membakar imajinasi malam-malammu!

***

ā€œTapi suara lain, suara yang berasal dari rahimku yang kesepian dan hasratku yang terabaikan, berbisik lebih keras: Dia basah, dia kedinginan, dan dia ada di sini, di rumahmu yang sepi. Lihatlah dia, Zuraida. Lihat apa yang tidak bisa diberikan suamimu.ā€ (Bab 1, Hujan di Tepian Siak)

ā€œKasihan bunga secantik ini, layu tak disiram.ā€ (Bab 2, Kenangan yang Basah)

ā€œSetiap sorongan adalah pernyataan kepemilikan. Setiap tarikan adalah siksaan rindu.ā€ (Bab 3, Gelora yang Tak Terbendung)

ā€œMalam itu, di samping suamiku yang terlelap, aku menyadari satu hal yang menakutkan: Aku tidak akan pernah puas lagi dengan ā€˜cukup’. Aku sudah merasakan ā€˜lebih’, dan sekarang, aku menginginkan ā€˜lebih’ itu lagi.ā€ (Bab 4, Nafkah yang Tak Sampai)

ā€œMobil Wan melaju meninggalkan pekarangan, meninggalkan Zuraida yang kini menatap pintu kamar mertuanya dengan tatapan waspada, seperti seekor rusa yang sadar ia terkurung dalam satu kandang dengan pemangsa.ā€ (Bab 5, Bayang-Bayang Tuak)

ā€œDi luar sana, aku mendengar suara Atuk Salim menyalakan televisi dengan volume keras, seolah dia adalah raja yang baru saja memenangkan satu wilayah jajahan baru. Dan wilayah itu adalah tubuhku.ā€ (Bab 6, Sapu Lidi dan Mata Keranjang)

ā€œRumah ini bukan lagi rumah. Ini penjara. Dan sipirnya adalah predator seksual yang bersembunyi di balik topeng ā€˜mertua’.ā€ (Bab 7, Pagar Makan Tanaman)

ā€œSutra kesetiaan yang kujaga untuk Wan—dan yang sempat ternoda sedikit oleh Mamat karena cinta—kini telah robek sepenuhnya. Robek bukan karena gairah, tapi karena paksaan.ā€ (Bab 8, Robeknya Sutra Kesetiaan)

ā€œAku menangis bukan karena diperkosa. Aku menangis karena aku menikmatinya. Aku menangis karena tubuhku sendiri telah menjadi pengkhianat.ā€ (Bab 9, Pengkhianatan Tubuh)

ā€œMalam itu, di dalam kegelapan yang menyelimuti rumah panggung, aku menyadari bahwa aku sendirian. Benar-benar sendirian. Dan kesendirian seorang istri yang bersuami adalah jenis kesepian yang paling mematikan.ā€ (Bab 10, Malam yang Hampa)

ā€œBoneka yang cantik. Boneka bernyawa yang paling mahal.ā€ (Bab 11, Boneka Bernyawa)

ā€œKau pikir kau predator? Kau lupa... betina yang terluka adalah pemangsa yang paling mematikan.ā€ (Bab 12, Reuni Sang Pecinta)

ā€œNikmatilah malam ini, tua bangka. Karena ini mungkin malam-malam terakhirmu bisa tidur nyenyak.ā€ (Bab 13, Topeng Puan Rumah)

ā€œMimpi indahlah malam ini, Atuk. Karena besok... kau akan bangun di neraka.ā€ (Bab 14, Perangkap Madu)

ā€œSimpan air mata itu buat hakim, Yah.ā€ (Bab 15, Penghakiman di Atas Ranjang)

ā€œBapakku yang dulu mengajarkan aku ngaji, yang mengajarkan aku jadi orang jujur, sudah mati. Yang di depan aku sekarang cuma orang asing yang jahat.ā€ (Bab 16, Pengakuan Sang Pendosa)

ā€œBegitu juga hidupku. Kotoran telah hanyut. Sekarang saatnya aku hidup.ā€ (Bab 17, Fajar Baru di Pekanbaru)

***

Di tepian Sungai Siak yang basah, kesetiaan seorang istri terkoyak oleh pengkhianatan suaminya, memicu eksplorasi sensual yang mengubah lukanya menjadi senjata mematikan. Puan Zuraida dulu adalah pilar kepatuhan di rumah panggungnya, hidup mematung dalam kehampaan pernikahan yang diwarnai aroma t...

Discover more

Ratings and reviews

1 review

Rate this ebook

Tell us what you think.

Reading information

Smartphones and tablets
Install the Google Play Books app for Android and iPad/iPhone. It syncs automatically with your account and allows you to read online or offline wherever you are.
Laptops and computers
You can listen to audiobooks purchased on Google Play using your computer's web browser.
eReaders and other devices
To read on e-ink devices like Kobo eReaders, you'll need to download a file and transfer it to your device. Follow the detailed Help Center instructions to transfer the files to supported eReaders.