Data-Driven Procurement menawarkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Buku ini mengajukan sebuah pergeseran paradigma—dari pengadaan yang berfokus pada kepatuhan prosedural menuju pengadaan yang berbasis analitik dan evidence. Di dalamnya, pengadaan tidak lagi dipahami semata sebagai proses administratif, melainkan sebagai sistem informasi strategis yang memengaruhi kualitas pembangunan daerah.
Melalui Model 5 Pilar Data-Driven Procurement (D2P), buku ini merumuskan arsitektur transformasi yang mencakup fondasi data, dashboard strategis, analitik kinerja dan nilai, deteksi risiko, serta kepemimpinan berbasis evidence. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana data yang selama ini tersimpan dalam sistem dapat diubah menjadi insight yang memperkuat legitimasi kebijakan dan melindungi profesionalisme aparatur.
Ditujukan bagi pimpinan daerah, UKPBJ, dan para pengambil keputusan, buku ini menjadi jembatan antara transformasi digital dan tata kelola berbasis analitik—menuju pengadaan publik yang tidak hanya patuh dan transparan, tetapi juga cerdas, adaptif, dan berdampak nyata bagi pembangunan.
Abdullah adalah aparatur sipil negara yang terlibat dalam pengelolaan dan refleksi sistem pengadaan pemerintah. Pengalamannya berada di persimpangan antara kebijakan, praktik lapangan, serta kepemimpinan organisasi membentuk cara pandangnya yang kontekstual sekaligus sistemik. Baginya, pengadaan barang dan jasa bukan semata proses administratif, melainkan arsitektur keputusan publik yang menentukan kualitas pembangunan.
Selama bertahun-tahun berada dalam ekosistem pengadaan, ia menyaksikan bagaimana digitalisasi membuka peluang besar, namun belum selalu diiringi perubahan cara berpikir. Dari pengalaman itulah tumbuh keyakinan bahwa pengadaan publik tidak cukup hanya patuh dan transparan, tetapi perlu bergerak menuju pengambilan keputusan berbasis data dan evidence.
Ketertarikannya pada tata kelola, analitik kebijakan, dan kepemimpinan berbasis evidence berangkat dari praktik sehari-hari—dari ruang rapat, evaluasi tender, hingga dinamika organisasi. Melalui buku ini, ia mengajak pembaca melihat pengadaan bukan sekadar proses administratif, melainkan sistem strategis yang memengaruhi kualitas pembangunan dan legitimasi keputusan publik.
Ia percaya, keputusan yang baik selalu dimulai dari keberanian membaca data dan memaknainya dengan bertanggung jawab.